Anak-anak itu polos…

Anak-anak itu polos…

                Tak peduli bagaimana orang dewasa menilai mereka saat mengamati sesuatu. Anak-anak merupakan sosok yang memiliki kepribadian yang polos,apa yang kita gambar menurut asumsi kita, mereka lihat dengan cara yang baru dan bebas.

                Saya pernah membaca tulisan Ferrucci yang menggambarkan bagaimana anak-anaknya menemukan hal-hal baru di dunia- hal-hal yang kita anggap “sudah tahu”, “sudah pernah mengalaminya”- sederhana ketika kita melihat lampu lalu-lintas, tanda dilarang parkir, bahkan tetesan air. Namun bagi seorang anak hal-hal tersebut bisa menjadi temuan baru dan menakjubkan, warna lampu yang berubah dari hijau ke merah, huruf yang diberi garis miring merah, dan bahkan kesejukan yang menyenangkan ketika tetesan air jatuh ditangannya.

                Ketika menjelajahi pengalaman baru dan menakjubkan, waktu bagi seorang anak bisa menjadi seperti lingkaran tidak mengarah kemana-mana. Tidak seperti kita, waktu adalah sebatang anak panah, siap dilesatkan, efisien, waktu yang tidak terpakai dengan baik berarti satu tujuan yang tidak tercapai.

                Kepolosan seorang anak juga terlihat ketika mereka mengasihi teman-temannya, dalam sebuah perlombaan mungkin kita mengajari mereka konsep kalah-menang, juara-tidak juara, namun ada kalanya kita justru diajari makna kasih oleh mereka. Suatu hari ada seorang anak yang menerima trofi penghargaan setelah mengikuti sebuah perlombaan, setelah ia menerima trofi tersebut ia menoleh teman-temannya dan berkata’tenang, nanti kalian juga dapat’. Begitu sederhananya kasih yang diajarkan seorang anak. Mereka beranggapan bahwa trofi akan diterima bagi setiap anak yang telah berpartisipasi mengikuti lomba. Bagaimana konsep kasih dan perlombaan/persaingan yang tertanam dalam pikiran kita saat ini?? J

                Suatu saat kepolosan anak-anak akan mulai tergantikan saat mereka mulai belajar kehidupan, konsep yang diajarkan oleh dunia,kecurangan, kompromi, persaingan, perhitungan, individualitas. Kita adalah agen Allah yang sudah mengenal konsep kebenaran dan kasih sejati. Ttugas kita sebagai orang yang sudah mengenal segala konsep yang salah dari dunia dan mengenal konsep kebenaran yang diajarkan Yesus adalah mendidik mereka untuk tetap memiliki kasih dan kepolosan itu. Anak-anak yang beranjak dewasa tidak boleh hidup dalam konsep yang ditawarkan dunia, melainkan konsep kekal dari Allah__kasih dan buah-buah Roh lainnya (Galatia 5: 22). Baharui hati dan pikiran kita agar kita kita memiliki kepolosan seperti seorang anak kecil karena itulah yang dikehendaki Bapa (Matius 18:3-4)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *