Iman, Kebenaran dan Rasio

Iman, Kebenaran dan Rasio

Ulangan 6:4-5 ; 1 korintus 14:15 ; Roma 1:17 ; Ibrani 10:38

 

Dewasa ini terdapat dua eksterm dalam memandang ima, kebenara dan rasio. Ada ekstrem ertama memandang bahwa rasio adalah yang aling utama. Rasio digunakan dalam menjelaskana kebenaran.  Misalnya saja dalam memahami Mujizat yang Tuhan Yesus memberi makan 500 orang. Menurut ekstrem ini, hal tersebut terjadi karena adanya inisiatif dari seorang anak kecil yang mengeluarkan 5 roti dan 2 ikannya, kemudian diikuti oleh massa yang berkumul sehingga makanan terseut tersisa hingga kira-kira 12 bakul. Jelas sekali bahwa pemahamanin bertentangan dengan pemahaman yang dituliskan dalam alkitab. Di ekstrem yang kedua, mengangga bahwa kita harus meninggalkan rasio untuk memahami kebenaran; membuang akal ikiran.

Lantas dimanakah posisi kita dan bagaimana kita meletakan iman, rasio dalam memahami kebenaran? Apakah rasio (Aku tahu) bisa berdampingan dengan iman? Siapakah yang lebih superior?

…..Aku Tahu Siapa Yang Aku Percaya….”

(2 Tim.1:12)

1. Iman lebih mendahului daripada rasio.

Manakah yang lebih superior? Iman atau rasio? Paulus sebelum menuliskan kalimat diatas, mendahului dengan tulisan mengenai iman. Itu berarti iman harus lebih dahulu daripada rasio. Di bagian lain dari Alkitab, Paulus menuliskan “Orang benar akan hidup melalui iman.” Iman menempati urutan yang teratas, bagian yang primer, lebih penting daripada segala sesuatu. Jadi mengerti ayat diatas adalah dalam konteks iman yang lebih mendahului dari pada rasio.

2. Iman harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan manusia.

Iman memang mendahului rasio dan menjadi pondasi bagi rasio, namun iman itu harus dapat dipertanggungjawabkan dengan rasio yang dapat dimengerti dengan sungguh-sungguh. Untuk inilah orang Kristen berapologetika, yaitu memberikan pertanggungjawaban atas Iman Kristen yang mereka miliki. Iman itu tidak terlihat oleh manusia dan dengan imanlah manusia berdiri dihadapan Tuhan. Tetapi ketika manusia berdiri dihadapan Tuhan, disaat yang sama manusia juga berdiri di hadapan manusia lainnya. Imannya kepada Allah yang tidak terlihat oleh manusia, harus dinyatakan kepada manusia sekitarnya dengan rasio. Manusia harus memberikan alasan kepada manusia lainnya mengapa ia berdiri di hadapan Tuhan. Jadi, dengan pengetahuan, kita mengerti mengapa kita berdiri dihadapan Tuhan dan dengan pengetahuan sejati itu juga kita dapat membagi-bagikan iman yang murni kepada setiap orang lainnya.

3. Rasio tidak boleh dibunuh oleh iman.

Rasio dicipta oleh Tuhan sebagai suatu yang penting. Manusia disebut sebagai manusia karena memiliki unsur rasio, emosi dan kemauan. Ketiga hal itulah yang menjadi pembentuk dasar manusia. Karena rasio diciptakan oleh Allah, maka rasio tidak boleh dibunuh. Menghancurkan dan membunuh ciptaan Allah artinya melawan Allah juga. Jadi proses pembunuhan rasio oleh iman merupakan proses perlawanan kepada Allah juga yang menciptakan rasio.

4. Rasio tidak boleh membunuh iman.

Ada kalanya rasio bertemu dengan kesulitan untuk mengerti kebenaran Allah, maka disinilah rasio harus tahu bagaimana menempatkan dirinya. Rasio tidak boleh membunuh iman dengan mengatakan bahwa ini tidak sesuai dengan apa yang rasio miliki. Atau ini tidak sesuai dengan rasio saya. Pembunuhan iman dengan rasio juga merupakan pembunuhan akan masa depan kita juga. Karena iman adalah bagaimana kita berdiri dihadapan Allah. Pembunuhan iman berarti merupakan peruntuhan kaki kita untuk berdiri tegak dihadapan Allah.

5. Penggunaan Rasio adalah bukti mengasihi Allah.

Orang beriman berarti orang yang mempersembahkan rasionya kepada Allah. Itu adalah salah satu syarat kasih yang sempurna. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Anda sudah mengasihi Allah? Gunakan segenap rasiomu untuk memuliakan Allah.

6. Rasio adalah objek dari kebenaran.

Ketika rasio meneliti kebenaran, siapakah yang menjadi subject? Apakah rasio? Disinilah pengertian rasio itu harus dilandaskan pada pondasi iman yang terarah pada kebenaran Allah. Jadi rasio disini yang berproses. Kebenaran itu adalah kebenaran dari dulu sebagaimana adanya. Kebenaran tidak pernah berproses, tapi rasio berproses. Jadi ketika rasio menyelidiki kebenaran, maka yang berubah adalah rasio itu. Dari kosong menjadi berisi nilai-nilai kebenaran. Mungkin juga sebelumnya rasio berisi nilai-nilai yang salah, sekarang dikoreksi oleh Kebenaran yang sejati. Ini artinya rasio tidak menjadi penentu kebenaran itu harus seperti ini atau itu sesuai dengan apa yang rasio miliki, tetapi rasiolah yang harus berubah menjadi semakin mengerti akan kebenaran.

7. Iman adalah mengembalikan rasio kepada kebenaran.

Ini merupakan kunci penjelasan mengenai apa yang Paulus katakan: “….Aku tahu siapa yang aku percaya….” Kenapa Paulus bisa berkata demikian? Karena Paulus sudah demikian berlimpah mengembalikan rasio-nya untuk diisi oleh kebenaran sejati. Rasio adalah terbatas (limited) dan dicipta (created). Tetapi rasio juga sudah tercemar (poluted), untuk itulah rasio harus dikembalikan kepada kebenaran. Paulus sudah sedemikian banyak mengisi rasionya dengan kebenaran, sehingga rasionya sungguh-sungguh terarah pada tujuan yang tepat. Dan dibagian lain dari Alkitab, Paulus berkata: “Aku berlari-lari….”, ini yang menyebabkan Paulus bebeda jauh dengan kita dan berani dengan tegas mengatakan “….Aku tahu siapa yang aku percaya….”

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *