Mengapa Perlu Menginjili?

Mengapa Perlu Menginjili?

 

Disadari atau tidak, Penginjilan bisa dibilang adalah hal yang tidak disukai bagi orang Kristen maupun non Kristen. Bagi kalangan Kristiani, menganggap Penginjilan adalah suatu hal yang sulit dan berat untuk dilakukan. Ada juga anggapan bahwa Penginjilan hanya merupakan tugas para Pendeta, Misionaris, serta hamba Tuhan lainnya. Jelas mengapa orang di luar Kristen tidak menyukai Penginjilan. Karena kalau tidak demikian, tentunya tak ada yang namanya penolakan. Memang tidak mudah. Pertanyaannya adalah perlukah kita memberitakan kabar sukacita ini? Sangat perlu, itulah jawabannya. Mengapa?

1. Memberitakan Injil adalah Amanat langsung, dimana Kristus sendiri yang memerintahkan.

Yesus secara tegas memberi perintah tanpa perantara. Ini menandakan bahwa perintah ini penting. Keempat kitab Injil dalam Perjanjian Baru mencatat sebuah misi yang Yesus berikan kepada murid-murid-Nya, yaitu Penginjilan.

(Matius 28:18-20) Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

(Markus 16:15-16) Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

(Lukas 24:45-49) Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.”

(Yohanes 20:21-23) Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

2. Kita telah diberikan teladan.

Menjadi Kristen, bukan semata-mata kita menyandang sebuah “agama”, melainkan menjadi pengikut Kristus. Artinya, menjadi serupa dengan Kristus. Dalam Yohanes 3-4, disana dijelaskan bagaimana Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah. Disini ada dua kisah yang bisa kita perbandingkan. Pada saat dan tempat yang berbeda, Yesus terlibat dalam percakapan dengan Nikodemus dan perempuan Samaria. Nikodemus berlatar belakang seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Sedangkan perempuan Samaria adalah seorang perempuan sundal yang telah melakukan zinah. Namun ketika keduanya menerima berita keselamatan itu, Nikodemus yang telah mempelajari Taurat justru masih bergumul dengan Injil. Sedangkan si Samaria justru langsung percaya dan bahkan dia membawa banyak jiwa datang kepada Yesus. Si perempuan Samaria saja, yang istilahnya baru kemarin sore mengerti berita keselamatan, dipakai Tuhan untuk membawa orang banyak untuk mengenal Yesus, bagaimana dengan kita yang sudah lama mengenal Kristus?

Dalam Markus 6:6-13, murid-murid pun memberitakan Injil seperti yang Yesus lakukan. Jemaat mula-mula juga demikian. Sedangkan yang tak ada dalam Alkitab, bisa kita temui tokoh-tokoh masa lalu, masa kini, termasuk tokoh-tokoh misi di Indonesia. Mereka adalah Marthin Luther Jr., Nomensen, dll.

3. Tanpa Injil manusia binasa.

(Roma 3:23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

(Roma 6:23) Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

(Yohanes 14:6) Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

(Kisah Para Rasul 4:12) Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

4. Bukti kasih dan ketaatan kita kepada Allah.

Memberitakan Injil sama artinya kita menaati perintah-Nya. Menaati apa yang menjadi perintah Yesus sama artinya kita mengasihi-Nya. Ketika kita mengasihi Yesus, kasih Tuhan kepada orang lain pun dinyatakan.

5. Allah menghendaki supaya tak ada yang binasa

(2 Petrus 3:9) Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

6. Semua orang membutuhkan keselamatan

7. Roh Kudus telah menyiapkan hati banyak orang

(Amos 8:11-12) “Sesungguhnya, waktu akan datang,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN. Mereka akan mengembara dari laut ke laut dan menjelajah dari utara ke timur untuk mencari firman TUHAN, tetapi tidak mendapatnya.

8. Kita telah menerima kuasa.

(Kisah Para Rasul 1:8) Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

 

Ada seseorang yang menemukan obat penyembuh penyakit kanker. Sebagaimana kita ketahui bahwa sampai detik ini pun belum ada yang menemukan cara bagaimana menyelamatkan orang dari kanker. Namun sayangnya, si penemu ini tidak mau mempublikasikan penemuannya ini kepada khalayak umum. Menurut kita orang yang seperti apakah dia? Mungkin kita akan berpendapat bahwa dia merupakan orang yang kejam, tak punya kasih, pelit, sombong, egois, tidak peka, dsb. Bagaimana dengan kita? Kita telah mengetahui jalan keselamatan itu, yaitu Yesus Kristus. Orang seperti apakah kita jika kita tidak memberitakan keselamatan kepada orang lain?

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: “Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?” Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. (Roma 10:14-17)

Bersiap sedialah, beritakan Injil baik ataupun tidak waktunya. Selamat ber-PI, Tuhan yang memilih Saudara, Tuhan juga yang memampukan Saudara. Tuhan Yesus memberkati :)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *