YANG PALING MENYEDIHKAN DAN YANG PALING MEMBAHAGIAKAN :’)

YANG PALING MENYEDIHKAN DAN YANG PALING MEMBAHAGIAKAN :’)

Masa lalu. Aneh, bukan? Banyak hal yang ingin kamu ingat malah memudar bagai uap. Tapi hal yg tidak mau kamu ingat justru membayang terus sepanjang hidup. Ingatan dan rasa bersalah atas dosa-dosa masa lalu mengejar kamu. Ketika kamu menyangka sudah dapat melupakannya, dosa-dosa itu datang mengetuk pintumu- mengingatkan, mencela, terlebih lagi menghukum.

Mungkin kamu berpikir, apakah pembicaraan tentang Salib dan dosaku adalah berita baik? Ya! Rebecca Pippert menyampaikan kisah nyata yg menunjukkan bagaimana pengertian yg benar tentang Salib  berkuasa mengubah seseorang.

Beberapa tahun yg lalu sesudah aku selesai berbicara dalam sebuah konferensi, seorang ibu muda yg cantik datang ke panggung. Sudah jelas ia mau bicara denganku. Saat aku menoleh kepadanya, matanya berkaca-kaca. Kami melangkah ke sebuah ruangan di mana kami dapat berbicara empat mata. Dari air mukanya terlihat jelas ibu itu orang yg sensitif, tetapi tersiksa derita. Sambil terisak-isak, ia bercerita.

Bertahun-tahun yg lalu, dia dan tunangannya (yg sekarang menjadi suaminya) aktif melayani sebagai muda-mudi di sebuah gereja yg konservatif. Mereka pasangan muda-mudi yg cukup dikenal, lagi pula besar pengaruhnya di kalangan kawula muda. Setiap orang menyegani dan mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum menikah, mereka mulai melakukan hubungan seksual. Sesudah itu mereka merasa amat tersiksa rasa bersalah dan merasa munafik. Lalu ia mendapati dirinya hamil. “Tidak terbayangkan apa akibatnya kalau aku mengakui perbuatanku di hadapan jemaat,” katanya. “Mengaku bahwa kami di satu sisi berkhotbah dan di sisi lainnya melakukan yg kebalikan dr apa yg kami khotbahkan tdk akan dapatditoleransi oleh jemaat di gereja kami yg sangat konsevatif. Lagi pula belum pernah terjadi skandal di situ. Kami merasa mereka tdk mungkin dapat menerima keadaan kami. Selain itu, kami jg tidak akan sanggup menanggung malu.”

“Jadi, kami mengambil keputusan yg amat menyakitkan. Aborsi! Hari pernikahanku menjadi hari yg paling buruk. Setiap orang di gereja tersenyum kepadaku- memandang aku pengantin yg masih polos. Tapi yg terbesit dalam pikiranku selagi berjalan perlahan memasuki ruang gereja hanya ini, “Kamu pembunuh! Kamu sombong sekali sampai-sampai tdk mau menanggung malu, tdk rela ketahuan keadaanmu yg sebenarnya. Tapi aku tahu siapa kamu; Tuhan juga tahu. Kamu sudah membunuh bayi yg tidak bersalah.”  Ia menangis terisak-isak sampai tidak bisa bicara. Waktu aku merangkul bahunya, terbesit sebuah pikiran yg begitu jelas di benakku. Tapi aku takut mengatakannya. Aku tahu, kalau pikiran ini bukan dari Tuhan, akibatnya akan sangat menghancurkan. Jadi aku berdoa dalam hati, memohon hikmat untuk menolong dia.

Ia melanjutkan, “Tega-teganya aku melakukan perbuatan itu. Bagaimana aku bisa membunuh anak yg tidak bersalah? Kok aku bisa seperti itu? Aku mencintai suamiku dan kami punya empat anak yg cantik-cantik. Aku tahu, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengapuni semua dosa kita. Tapi aku tidak bisa mengampuni diri sendiri! Aku sudah mengakui dosa ini ribuan kali, tapi aku masih merasa amat menderita dengan aib ini. Aku tak henti dihantui pikiran – tega-teganya aku  membunuh anak yg tidak bersalah!”

Aku menghela napas, lalu  mengatakan apa yg aku pikirkan. “Aku heran kenapa kamu begitu kaget terhadap perbuatanmu. Ini bukan yg pertama kali dosamu menyebabkan kematian, ini  yg kedua kali.” Ia menatap aku dengan ekspresi keheranan. “Sahabat, ” lanjutku, “Ketika kamu menatap Salib, tahukah kamu bahwa kita semua adalah  penyalib-penyalib itu? Orang yg religius atau yg tidak, orang yg baik atau yg buruk, yg pernah aborsi atau yg tidak – semuanya bertanggung jawab atas kematian satu-satunya Pribadi yg tidak bersalah. Yesus mati menanggung dosa-dosa kita – dosa masa lalu, dosa yg sekarang, dosa masa depan. Menurut kamu, apakah ada dosa-dosamu yg tidak perlu ditebus oleh Yesus melalui kematian-Nya? Dosa kesombongan yg menyebabkan kamu membunuh bayimu adalah dosa yg juga membunuh Kristus. Tidak jadi soal kalau kamu tidak ada disana dua ribu tahun yg lalu, kita semua membuat Yesus berada di sana. Luther mengatakan bahwa kita membawa paku-paku itu di kantung baju kita. Jadi, kalau kamu sudah pernah melakukan perbuatan seperti itu, tidak aneh kalau kamu melakukannya lagi.”

Ia berhenti menangis. Ia menatap lurus ke amtaku dan berkata, “Ya, benar, aku sudah melakukan sesuatu yg lebih buruk daripada membunuh bayiku. Dosakulah yg membuat Yesus mati di kayu salib. Memang aku waktu itu tidak ada di sana dan tidak mengayunkan palu untuk menyalibkan Dia, tapi aku tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Aku tadi datang untuk mengatakan bahwa aku sudah melakukan sesuatu yg tidak terbayangkan buruknya. Tapi sekarang aku disadarkan bahwa aku sudah melakukan seusatu yg lebih buruk lagi daripada itu.”

Aku mengernyit tanda merasa ngeri karena aku tahu itu benar. Kemudian ia berkata lagi, “Tapi, kalau Salib menunjukkan kepadaku bahwa aku jauh lebih buruk daripada yg  kubayangkan, Salib juga menunjukan bahwa kejahatanku sudah dihapus dan diampuni. Kalau hal yg paling buruk, yg dapat dilakukan manusia adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, maka bagaimana mungkin hal-hal lainnya, termasuk aborsi yg aku jalani, tidak diampuni?”

Aku tidak pernah lupa sorot matanya ketika ia duduk bersandar lega pada kursi,  lalu berkata pelan, “Kasih karunia yg amat mengagumkan.” Kali ini ia menangis lagi, bukan karena kesedihan yg mendalam, tapi karena ia merasa lega dan sangat berterima kasih kepada Tuhan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana seorang Ibu muda diubahkan oleh pengertian yg tepat tentang Salib.

Sama seperti wanita dalam kisah di atas ini, kita perlu terlebih dulu mendengar berita buruk tentang Salib sebelum mendengar berita baik, Dan bagi orang-orang berdosa seperti kau dan aku, ada terlalu banyak berita baik untuk didengar.

John Stott menulis, “Sebelum kita dapat mulai memahami bahwa Salib adalah sesuatu yg dilakukanNya bagi kita, kita perlu melihat Salib sebagai sesuatu yg dilakukan oleh kita. Selagi kita menatap pada Salib, kita dapat berkata kepada diri sendiri dua hal ini sekaligus, “Aku yg melakukannya; dosa-dosakulah yg membuat Dia disalibkan,’ dan ‘Dialah yg melakukannya; kasihNya membawa Dia ke kayu salib”.

Sekarang renungkan fakta bahwa Kristus sudah menanggung hukuman dosa kita. Pada DiriNya sendiri, Ia menimpakan hukuman yg seharusnya kamu tanggung. Apakah kamu merasakan kasihNya yg murni dan khusus itu bagimu? Ia mati bagimu. Ia dukum dan dikutuk supaya kamu dapat dibebaskan dari hukuman – Ia ditinggal Allah supaya  kamu tdk akan pernah ditinggalkan (Ibrani 13:5):’)

Semoga cerita ini dapat memberkati,, :) 

Taken from Boy meet Girl (Joshua Haris)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *