Menyingkap Rahasia di Balik perilaku Sang Adik

Menyingkap Rahasia di Balik perilaku Sang Adik

Siapa yang tidak pernah melewati masa anak-anak? Setiap orang berhak mengalami kehidupan sebagai seorang anak. Bahkan ketika dia dianggap dewasa pun ia masih dikategorikan sebagai anak. Namun, dimana letak keberbedaannya? Adalah usia, sikap dan pola pemikiran yang membedakan satus anak yang sudah dewasa dan anak yang memang masih berumur anak-anak. tapi, yang menjadi penekanan di sini adalah apakah sikap dari anak-anak tersebut memang harus dihilangkan sepenuhnya? Perilaku seorang anak penuh dengan warna rahasia. Lantas bagaimana cara kita untuk menyingkap rahasia di balik perilaku anak tersebut ?

Berbicara tentang anak, kita dianjurkan tidak hanya terpaku pada hubungan antara anak dan orang tua. Anak tidak selalu identik dengan hubungan sedarah yang mengikat diantara keduabelahpihak. Presepsi luas tentang anak juga dapat diadaptasi sebagai orang-orang yang umurnya berada dibawah kita atau yang terkadang kita kategorikan sebagai “junior kita”. Cerminan sederhana untuk menyingkap rahasia di balik perilaku anak ada dalam diri kita senidiri dan keluarga kita sekarang. Contohnya, mungkin diantara saudara ada yang kedudukan di dalam keluarganya mempunyai posisi sebagai kakak atau adik. Jika kita sedang dalam posisi sebagai kakak, pernahkah kita belajar untuk lebih peka akan kehadiran sang adik kita? Mungkin kisah di bawah ini dapat menjadi bahan renungan kita masing-masing.

Di sebuah Negara kecil di California hiduplah sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak, mereka adalah Scott dan Paul. Mereka tinggal di sebuah lingkungan keluarga yang mempunyai rasa empati tinggi terhadap sesama. Sang adik, Paul, sangat menyayangi sang kakak. Namun, sang kakak tak pernah menyadari sikap yang ditunjukkan sang adik selama ini kepadanya adalah wujud kasih saying yang seharusnya ditanggapi kembali oleh sang kakak. Scott yang mempunyai karakter sosok seorang kakak yang dingin, membuat adiknya geram ketika ia menginginkan kakaknya ini memperhatikannya sebagai adik. Hingga suatu hari ia bertekad dalam hati untuk melakukan hal yang dapat membanggakan kakaknya itu. Suatu saat ia diajak kakaknya untuk turut berpartisipasi menjadi relawan di sebuah panti yang menampung orang cacat. Hingga ia bertemu dengan Mikey, seorang anak cacat yang mengasingkan dirinya selama satu tahun belakangan ini semenjak ia dititipkan di panti tersebut. Hari-harinya dilewati dengan mulut yang membungkam. Setiap orang yang datang kepadanya selalu disambutnya dengan wajah yang datar. Semangat hidupnya seperti tidak ada lagi. Ketika Paul melihat anak tersebut ia merasa tersentuh dan berinisiatif untuk mendekati teman barunya tersebut. Sebelumnya ia bertanya dengan ibu panti tentang keadaan Mikey dan meminta izin untuk mendekati Mikey. Namun, ibu panti menunjukkan sikap pesimis melihat inisiatif Paul ingin berteman dengan Mikey. Akhirnya anak usia 14 tahun ini memberanikan diri mendekati Mikey. Walaupun ia tidak pernah mendapat respon dari Mikey, tetapi Paul tetap setia mengikuti kemanapun Mikey pergi. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Mikey, senyuman pun tak pernah ia torehkan di bibirnya yang merah tersebut. Kegiatan ini terus ia lakukan manakala ia dan kakaknya datang ke panti tersebut. Hingga berselang enam bulan, ketika pagi ini ia berencana untuk pergi ke panti untuk pertama kalinya ia terlambat bangun dan sang kakak sudah berangkat ke panti tanpa membangunnya. Ketika ia tersadar dari tidurnya ia mendapati kakaknya sudah mendahuluinya untuk pergi ke panti. Paul pun langsung menyusul kakaknya ke panti. Sesampainya di panti, ia justru mendapat tepuk tangan dari si ibu panti. Ia pikir ini hanyalah tepuk tangan sindiran karena ia sudah terlambat datang ke panti, bahkan tidak hanya ibu panti tetapi relawan lain serta kakaknya pun ikut bertepuk tangan saat Paul memasuki ruangan. Namun, saat ia mendekati ibu panti, si ibu panti justru mengucapkan terima kasih kepada Paul, karena Mikey akhirnya bisa berbicara kembali dan kata pertama yang ia keluarkan adalah “ Dimana Kak Paul ?”. Ini di ucapkan Mikey karena selama Paul terlambat tadi, ia menunggu kedatangan Paul sambil menyebutkan namanya. Dari kejauhan sang kakak, scott, datang menghampiri Paul dan berkata “ Ini Adik kecilku “, sambil merangkul Paul di depan relawan yang lain. Langsung seketika itu Paul menitihkan air mata karena harapannya untuk membanggakan kakaknya di depan orang banyak terkabul.  Mereka pun langsung berpelukan dan Mereka pun menghampiri Mikey. Walaupun pada akhirnya Mikey harus pindah dari panti tersebut, mereka tetap berusaha untuk berkomunikasi melaui surat meskipun tulisan Mikey masih sederhana dan sulit untuk dibaca. Namun, Scott dan Paul selalu senang dan mereka bersama-sama membaca surat dan memberikan balasannya untuk Mikey.

Dari cerita tersebut kita dapat belajar bahwa harapan-harapan sebuah anak tergambar jelas dalam memori mereka. Begitu banyak harapan tersebut terkadang tidak pernah kita sadari bahwa ketulusan hatinya untuk meraih harapan tersebut adalah kunci dari rahasia perilaku anak yang terkadang tidak dapat dibaca oleh orang yang melihatnya. Terlebih dalam posisi suadara sekandung rasa cemburu yang terkadang membayangi hubungan adik dan kakak terkadang member peluang untuk terciptanya hubungan yang tidak harmonis dan  kemungkinan menjadi penghalang untuk melihat kesungguhan kasih sayang diantara adik-kakak. Sebagai seorang kakak, kita memang dituntut untuk lebih bertanggung jawab dan mengerti keadaan keluarga kita. Namun, peranan tersebut tidak seharusnya dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan aksi kekuasaan dibanding saudara yang lainnya. Terkadang kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sifat kekanak-kanakan dari adik kita, perilakunya tidak bisa sepenuhnya kita golongkan sekedar mencari perhatian. Kita harus belajar lebih peka melihat keadaan adik kita, terkadang secara tidak langsung kita bisa belajar untuk menghargai masa-masa kecil kita dan semangat seorang anak yang seharusnya masih kita pertahankan ketika kita telah menjadi anak yang sudah dewasa. Harapan-harapan mereka yang dengan yakin mereka ucapkan, dan tidak mudah menyerah untuk mencapai impian tersebut dapat menjadi bahan refleksi kita dalam menjalankan kehidpuan sehari-hari. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa untuk memeplajari perilaku anak kita tidak harus menunggu sampai mempunyai anak, sekarang juga pun Anda dapat mengetahui indahnya perjalanan hidup itu melalui mereka, melaui cerminan keluarga kita, termasuk “si mungil “ adik kecil kita.

Selamat mengasihi adik-adik kita.. God Bless you all..

Terinspirasi dari artikel.sabda.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *