KADO UNTUK TUHAN

KADO UNTUK TUHAN


                 “WHOAA DESEMBEERRR…!!!” Pekiknya dengan penuh kegirangan ketika mendapati kalendernya berganti bulan. Renata, gadis berusia 15 tahun yang saat ini duduk di bangku kelas 1 SMA. Desember merupakan bulan yang paling ia nantikan. Karena di bulan itu, segala keinginannya dapat tercapai.

                “Mamaaa…mamaa…. sebentar lagi Nataaalll, wah harus beli baju nih, oya nanti mama kasih kado kamera SLR aja yaa.. temen-temenku lagi heboh-hebohnya pake kamera soalnya”, teriaknya sambil menuruni tangga, sembari mengenakan dasi sekolahnya yang berwarna abu-abu. Namun sang mama nampak masih terlihat sibuk di dapur. “Iya..iyaa.. kamu itu pagi-pagi berisik sekali” sambil memasukkan bekal makanan ke dalam tas Renata. “Nih mama bikinin nasi goreng sosis kesukaanmu, oya mama masukkin juga roti panggang di tasmu, nanti kamu bagi-bagi ke temanmu pas doa pagi”. “Siap mamaaa!” dengan senyum yang terkembang. “Tapi jangan lupa kameranya yaa.. hehehehe” sambil mengedipkan mata ke mamanya. “Iya iya, sudah sana, nanti kamu terlambat”. Renata pun segera berangkat diantar papanya.

                “Shalom temen-temen, renungan kita pagi ini diambil dari Roma 8:28……..” ucap Danny yang merupakan ketua Rohkris. Namun renungan yang dibawakan oleh Danny tidak didengarkan oleh Renata, ia masih saja sibuk dengan androidnya.

Renata : Natal tahun ini lu dibeliin apa lis?

Elisa       : Bokap gue sih ngejanjiin liburan ke

                   Inggris re :) kalo lo?

 Renata : Wih asyik beneer… gue sih cuma minta kamera SLR ke nyokap gue. Desember ini kayanya gue ga kemana-mana deh

                Renata masih sibuk ber-whatsapp-an dengan teman gerejanya. Baginya Natalan merupakan ajang baginya untuk meminta kado kepada orangtuanya. Oleh sebab itu ia sangat menanti-nantikan bulan Desember. Renata terus saja membayangkan dirinya menggunakan kamera tersebut dan membawanya ke sekolah. “Mari kita berdoa, Tuhan terimakasih untuk renungan pagi ini, ajar kami Tuhan untuk menyadari bahwa dalam segala hal, Tuhan turut bekerja……………………”, Danny memanjatkan doanya dengan khusyuk. “apa-apaan nih, udah main doa aja, gue baru duduk perasaan, haish”, ucap Renata dalam hatinya, yang tidak sadar doa pagi telah selesai. “Amin..” ucap anak-anak rohkris secara serempak, termasuk Renata.

Saat istirahat kedua

                “Ren, nanti pulang sekolah kumpul dulu yaa.. di RR, kita mau ngomongin soal konsep acara natal sekolah kita” ajak Vita, yang merupakan kakak kelas Renata. RR merupakan sebutan bagi Ruang Rohkris. Mereka terbiasa menyingkatnya menjadi RR untuk menghemat kata-kata. “ah anu ka, hem iya ka nanti deh, tapi kayanya ga bisa deh kaa” ungkap Renata sedikit memelas. “loh emang kenapa? yah padahal aku mau minta kamu jadi singer, soalnya si Angel suaranya lagi serak”. “iya ka, lain kali aja ya ka, aku udah ada janji sama mama” Renata pun mulai berbohong, padahal hari itu ia tidak ada kegiatan apapun. Renata tidak pernah menyukai kegiatan-kegiatan rohkris, baginya ke gereja saja sudah cukup. Ia lebih suka menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan ataupun duduk di depan laptop dan bermain dengan gadgetnya, daripada harus rapat membicarakan acara natal, paskah ataupun mencari dana untuk kunjungan kasih. Selama ini kalau pun ia mengikuti persekutuan, itu karena dipaksa oleh mamanya.

                Seminggu menjelang natal, Renata terlihat sangat bersemangat, ia bahkan sering membantu mamanya membersihkan rumah, dan menyambut ayahnya ketika pulang kerja. Kedua orangtuanya sudah tidak heran melihat tingkah laku anaknya tersebut. Desember lalu pun, ia melakukan hal yang serupa demi mendapati hati kedua orangtuanya agar dibelikan IPOD saat itu. Desember 2 tahun lalu, Renata meminta handphone, dan begitupun Desember sebelum-sebelumnya. Hanya bedanya, ketika masih kecil, ia hanya meminta dibelikan sepatu, tas, ataupun buku, berbeda dengan sekarang. Sekarang ia tumbuh menjadi seorang remaja dan berada di lingkungan pergaulan yang elit.

                Sore itu, Renata sedang duduk di depan komputernya mengerjakan tugas sosiologi yang diberikan gurunya. Tiba-tiba saja dari arah ruang tamu, si Bi Inah berteriak setelah mendengar suara telepon dari sebrang. “Non Rereee…. cepet turun… ayo non kita kerumah sakit, ayo nooonn” Inah terlihat histeris, dan kemudian berlari ke arah kamar Renata. Air matanya tanpa sadar mengalir, dan membuat kedua matanya merah. “Ada apa sih bi?” Rena tampak kebingungan, dan menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “Ibu sama Bapak, Non!” sesungguk Inah tak mampu melanjutkan. “Kenapa bi? jangan bercanda deh, buruan bilang ada apaaa?” Renata setengah berteriak, karena instingnya mulai berkata, sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia ketakutan dan air matanya pun tanpa sadar membasahi kedua pipinya. “Mereka katanya kecelakaan Non saat diperjalanan pulang dari Mall, sekarang mereka di rumah sakit, tadi itu susternya yang telepon” Inah kembali berurai air mata, dan tak sanggup melihat wajah anak majikannya. Ia tahu betul, hal ini sangat memukul hati Renata. Renata tidak memiliki adik maupun kakak, sehingga seringkali ia bercerita kepada Inah mengenai kehidupannya di sekolah. Ia terkadang merasa kesepian apabila kedua orangtuanya sedang di luar, oleh sebab itu berita ini pasti sangat berat baginya, karena harus ditanggungnya sendiri. Keduanya pun kemudian bergegas ke rumah sakit. Baju Renata basah, karena sepanjang perjalan, ia terus menangis. Inah pun tak kuasa, dan hanya bisa memegang tangan Renata yang gemetaran.

Di Rumah sakit

                “Pah, Mah maafin Renata…” ucap Renata lirih, ketika melihat kedua orangtuanya terbaring di tempat tidur. Saat itu ia melihat di samping tempat tidur papanya terdapat kardus berukuran sedang yang terbalut kertas kado. Ia pun beranjak mendekati benda tersebut dan membukanya dengan perlahan. Ia kaget, melihat isi tersebut ternyata adalah kamera SLR yang selama ini ia idam-idamkan. Ia bahkan belum sempat mengatakan tipe kamera yang ia inginkan kepada mamanya, namun mamanya tahu betul apa yang diinginkan Renata. Air matanya kembali berlinang. Ia merasa dirinya begitu egois, selalu mementingkan dirinya sendiri, segala keinginannya selalu dituruti orangtuanya, namun ia tak pernah puas diri.

Tiba-tiba sebuah BBM masuk ke handphonenya. Ternyata itu Danny.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal – Yoh 3:16.

Tuhan sudah memberikan yang terbaik dari yang Ia miliki, sudahkah kita memberikan yang terbaik juga kepada Tuhan? Mari rayakan kelahiran-Nya dengan penuh sukacita, karena itu adalah kado terindah yang Tuhan beri. Tuhan memberkati ^^”

                Renata hanya terdiam. Ia kemudian melipat tangannya dan tanpa sadar ia mulai berdoa. “Selamat malam Tuhan Yesus” Ia mulai mengucapkan kata demi kata. Ia nampak kaku dan terlihat berpikir ketika berdoa. Selama ini, ia berdoa hanya untuk menyampaikan permohonannya kepada Tuhan, ia bahkan tidak pernah menyapa Tuhan di dalam doanya. Baginya, doa hanyalah untuk memohon. “Terimakasih Tuhan untuk segala yang terjadi saat ini. Terimakasih Tuhan masih mau menegurku. Ampuniku karena selama ini, aku tidak pernah bersyukur. Aku terus saja mengingini banyak hal dalam hidupku, tanpa aku sadari Tuhan telah memberikan yang terbaik buatku. Aku kira natal hanyalah sebuah perayaan biasa, dimana ada banyak hadiah disana, dan aku dapat meminta apa saja yang aku suka. Aku lupa, bahwa sesungguhnya natal itu merupakan hari kelahiran-Mu. Yaa.. Engkau berulangtahun, dan aku tidak menyadarinya selama ini. Aku pikir ini pestaku. Tetapi aku salah. Ini pesta ulangtahun-Mu Tuhan. Bukankah orang yang berulangtahun yang seharusnya diberi kado? bukan malahan ia dimintai kado? Bodohnya diriku, selama ini justru aku meminta banyak hal dari Tuhan, tetapi aku sendiri tidak pernah memberikan apapun untuk Tuhan”, air matanya kembali berurai. Ia benar-benar disadarkan saat itu. Selama ini ia terus saja meminta, tetapi tidak pernah berbuat sesuatu untuk Tuhan. “Ampuni aku Yesus.. tetapi jika boleh, aku ingin meminta sesuatu. aku janji ini yang terakhir kalinya aku meminta kado natal dari-Mu. Aku hanya ingin kedua orangtuaku sembuh. Aku mengasihi mereka Tuhan. Aku berjanji tidak akan menjadi anak yang egois, aku berjanji akan melayani Tuhan di rohkris, aku berjanji akan melakukan apa yang aku bisa untuk Tuhan. Terimakasih Tuhan masih mau mendengar doaku, hanya itu pintaku.  Amin”

                Renata tertidur di sofa. Ia kelelahan karena semalaman menangis. Bi Inah yang baru saja datang, membangungkannya. “Non, bangun Non. Papa sama Mama Non sudah sadar dan ada di ruang pemeriksaan sekarang”. “Hoaam… iya bi”. Namun belum 5 detik, ia terperanjat dan berusaha mencerna kata-kata Bi Inah. “Apa biii??? papa sama mama udah sadaaarrrr???”, serunya dengan girang. Senyum pun terkembang di wajahnya yang agak sembab. Ia kemudian berlari menuju ke ruangan yang dimaksud dengan selimut masih melekat dibadannya. “PAPAAA… MAMAAA…”, ia memeluk erat-erat kedua orangtuanya secara bergantian. Ada rasa haru dan bahagia di hatinya. Tuhan menjawab doanya.

                Sesuai janjinya malam itu, ia mulai melayani di rohkris dan bertumbuh dalam persekutuan. Ternyata persekutuan dengan Tuhan begitu indah. Berkumpul dengan saudara-saudara seiman dan dapat saling menguatkan satu sama lain. Ia pun heran mengapa selama ini ia tidak menyukai hal-hal tersebut. Perlahan Renata berubah menjadi sosok gadis yang lebih dewasa dan peduli dengan sesama. Saat ini ia sedang sibuk mempersiapkan acara natal sekolahnya. Ia pun akhirnya bersedia menjadi singer. Dan natal tahun ini merupakan natal terakhir ia meminta kado dari Tuhan. Menyadari bahwa seharusnya ia yang memberikan kado untuk Tuhan di hari ulang tahun-Nya. Karena sesungguhnya, kado terindah, termulia, dan sangat berharga sudah ia terima dari Tuhan, yaitu Anak-Nya yang tunggal, yang rela menebus dirinya dari dosa.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal – Yoh 3:16.

 

Created by : Komisi Pelayanan Siswa

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *