Benih kejujuran

Sejuknya pagi mengantarkan Doni, seorang anak yang duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar, untuk berangkat ke sekolahnya. Tepat di jam 6 pagi pelajaran pertama pun dimulai. Pagi itu Doni bersama teman-teman sekelasnya yang lain memperoleh pelajaran IPA dari Bapak gurunya. Selang sejam pelajaran berlangsung, pak guru memberikan arahan mengenai tugas yang harus mereka kumpulkan selama dua minggu kedepan. Pak guru mengeluarkan sebuah kantong yang ternyata isinya adalah benih-benih dari tanaman tauge. Hari itu mereka ditugaskan untuk menanamkan benih tersebut dan mengikuti pertumbuhan dari tanamannnya. Doni pun bergegas pulang, segera saja ia menanam benih itu dengan semangat, berharap ia bisa melihat hasil dari kerja kerasnya beberapa minggu kedepan. Hari lepas hari, ia selalu menyirami tanamannya dengan air. Dirawatnya benih tersebut dengan baik, namun tak ada perubahan yang didapatinya. Tetap tanah padat berwarna coklat yang ia lihat di dalam sebuah pot merah yang mencolok warnanya. Sedih karena tanamannya tak kunjung menujukkan batang hidungnya, Doni pun tak patah semangat untuk tetap merawat tanamannya hingga hari pengumpulan hasil tanaman mereka pun tiba. Terang saja, teman-teman Doni membawa pot yang didalamnya berisi tanaman yang tumbuh dengan eloknya. Hati kecil Doni semakin terusik. Satu per satu tanaman diserahkan kepada pak guru, hingga tibalah giliran Doni.

         “ tanaman kamu kenapa tidak tumbuh Don, apa kamu tidak merawatnya.” Tanya pak guru bingung.

        “ saya juga gak tahu pak, saya sudah rawat setiap harinya tapi benih Doni tetap aja gak numbuh.” Jawab Doni dengan sedih.

          Pak guru pun akhirnya menerima hasil tanman Doni. Tiba-tiba di akhir pelajaran Doni dipanggil ke depan kelas. Pak guru berdiri disamping Doni dan mengulurkan tangannya tanda berjabat tangan sambil berkata “ selamat Doni, kamu adaah anak yang paling jujur dalam satu kelas ini”. Dengan muka raut muka yang bingung Doni pun menyambut jabatan tangan pak guru. Ternyata, apa yang dialami Doni seharusnya juga dialami oleh temannya yang lain. Pak guru baru mengecek bahwa benih yang ia berikan ternyata sudah rusak sehingga ada kemungkinan tidak tumbuh. Mendengar itupun Doni tersenyum lega dan mungkin benih yang ia dapati saat ini adalah benih kejujuran yang bertumbuh didalam dirinya.

          Sekarang giliran kita, mungkin bukanlah sesuatu yang mudah untuk merawat benih kejujuran yang ada didalam diri kita. Setiap dari kita yang sudah diberikan kasih oleh Allah terkadang tidak dapat menujukkan kasih tersebut kepada sesama kita, sederhana saja tentang kejujuran. Bagaimana saudaraku, maukah kita mulai membuka pikiran dan belajar seperti Doni? Memulai menumbuhkan benih kejujuran mungkin dalam hal kecil sekalipun? Kiranya Tuhan yang menyertai saudara dalam proses penumbuhan benih kejujuran tersebut agar buahnya dapat dipetik dan bijinya dapat disemaikan kembali menjadi benih bagi orang lain.

Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya”

( Amsal 11:6a)

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *