KISAH DUA SAHABAT

 

http://aziachmad.files.wordpress.com/2010/04/dua-sahabat-sejati.jpg

Ernie dan Mike adalah dua orang sahabat sejak masih sangat kecil. Ernie seorang anak yang kuat dan besar, sedangkan Mike berperawakan kecil namun pintar. Mereka melakukan banyak hal bersama-sama, mulai dari bermain, mencoba hal-hal baru, hingga melakukan kenakalan-kenakalan anak kecil. Ketika beranjak remaja dan kemudian dewasa, Ernie dan Mike mulai mengambil jalannya masing-masing. Dua jalan yang sangat berbeda. Ernie selalu mencari masalah. Ia mulai dengan mengutil barang-barang kecil di toko kelontong, hingga akhirnya bergabung dengan kelompok berandalan yang kerjanya mencuri mobil. Semakin lama ia terjerumus semakin jauh dalam dunia kejahatan. Ia mulai merampok dan mencuri menggunakan senjata api. Hingga suatu ketika, dalam sebuah usaha perampokan di sebuah rumah mewah, ia terjebak dan terpaksa menembak pemilik rumah. Pemilik rumah tewas, tapi Ernie tertangkap. Ernie dimasukkan ke dalam tahanan. Setelah proses panjang pengadilan, akhirnya Ernie divonis hukuman mati.

Sementara itu, Mike menjalani hidup yang sangat berbeda. Kepintarannya membawa kesuksesan dalam pendidikan. Meski bukan berasal dari keluarga yang berada, Mike berhasil meneruskan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Ia belajar sambil bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Bertahun-tahun ia memaksa diri hingga ke batas kemampuannya. Selepas dari bangku kuliah, Mike terus bekerja dan membangun usaha. Perlahan tapi pasti, ia menjadi pengusaha yang sukses. Akan tetapi, karena bekerja terlalu keras selama bertahun-tahun, Mike kerap mengalami gangguan kesehatan. Yang paling parah adalah matanya. Seiring dengan bertambahnya usia, penglihatan Mike terus berkurang hingga akhirnya ia dinyatakan buta.

Suatu hari, Mike mendengar berita tentang sahabat lamanya, Ernie. Kabar tentang pembunuhan yang dilakukan Ernie sangat menusuk hatinya. Ia merasakan sedih dan duka cita mendalam ketika mendengar teman masa kecilnya itu divonis hukuman mati. Ia pun tergerak untuk mengunjungi Ernie di penjara. Pertemuan itu begitu menyentuh. Mereka bercakap-cakap begitu lama, tentang berbagai hal menyenangkan yang mereka alami ketika masih sama-sama kecil. Mereka tersenyum, tertawa, dan kemudian menitikkan air mata. Beberapa kali mereka bertemu, Ernie mulai merasakan kehangatan dan harapan yang muncul dari sosok sahabatnya yang kini terpaksa harus dituntun karena buta.

Muncul gagasan dalam benak Ernie. Ia akan dieksekusi, tapi sahabat terbaiknya buta. Apakah mungkin ia dapat berbuat sesuatu dalam sisa kesempatan yang ia miliki. Ia mau mendonorkan matanya untuk Mike. Pada akhirnya, Mike memang berduka karena kehilangan sahabat masa kecilnya. Namun, ia juga bersyukur karena di akhir hidupnya, sahabatnya melakukan satu hal yang sangat baik sehingga ia dapat melihat kembali. Saudara, tidak seperti Ernie, barangkali kita tidak pernah mengetahui berapa banyak lagi kesempatan yang kita miliki. Namun, selagi masih ada kesempatan, Kristus mengajarkan kita untuk terus berbuat baik dan menyatakan kasih, seperti yang telah Ia tunjukkan di atas kayu salib.

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *