Saul vs Daud

daud-saul

“Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:14)

Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan ayat di atas, tapi sudahkah kita memahami apa maksud sesungguhnya dari ayat itu?

Saul dan Daud adalah tokoh yang cukup terkenal di Alkitab. Sebagian dari kita mungkin sudah tahu bagaimana jalan hidup mereka. Walaupun sesungguhnya hidup mereka diberkati oleh Tuhan tapi sesungguhnya ada perbedaan besar dalam akhir hidup mereka.

            Saul adalah seorang anak dari suku Benyamin yang merupakan orang berada. Saul memiliki wajah yang tampan, bahkan dikatakan bahwa Saul adalah orang tertampan di Israel pada masa itu (! Tim 9:1-2). Tidak hanya berasal dari keluarga berada dan wajah tampan, Saul juga memiliki postur tubuh yang sangat gagah. Walaupun secara fisik Saul memiliki tubuh yang sempurna dan hidup dalam berkelimpahan, tetapi Saul adalah orang yang minder (1 Tim 9:21). Ia bahkan berkata bahwa kaumnya adalah kaum yang paling hina diantara suku Benyamin (padahal kaumnya adalah kaum yang paling kaya lho).

            Saul merupakan orang yang dipanggil Allah tapi dalam perjalanannya ia tidak dipilih oleh Allah. Mengapa demikian? Sama halnya pada saat kita lahir baru, begitu juga Saul saat diurapi telah menerima kuasa Roh kudus yang mampu mengubahkan setiap hidup kita (1 Tim 10:1,6). Setelah Samuel mengurapi Saul, Samuel hendak mengenalkan Saul sebagai raja kepada kaumnya. Namun, pada saat Saul dipanggil maju, Samuel tidak dapat menemukannya hingga akhirnya Saul diketemukan bersembunyi diantara tumpukan barang (1 Tim 10:22). Dari sini, kita dapat lihat bahwa walaupun Saul sudah diurapi tetapi ia masih saja bersembunyi, masih saja bersikap minder.

Kesalahan lain yang Saul lakukan adalah pada saat waktu orang Filistin datang menyerang. Dikatakan bahwa saat itu keadaan Israel terjepit karena orang Filistin telah siap menyerang mereka dengan pasukannya yang banyak. Saul dan bangsa Israel menunggu kedatangan Samuel untuk menunggu bantuan. Namun, Samuel tidak kunjung datang. Rakyat Israel pun mulai mengeluh dan mulai meninggal Saul sebagai pemimpin saat itu. Lagi lagi, Saul melakukan kesalahan. Ia pun mempersembahkan korban bakaran. Pada saat Samuel mengetahuinya dan bertanya mengapa Saul melakukannya, Saul berkata bahwa ia takut karena rakyatnya mulai meninggalkan dia (1 Tim 10:11). Samuel sangat marah dengan hal ini karena Saul tidak menuruti perintahnya bahkan Samuel berkata bahwa itu adalah perbuatan bodoh! (1 Tim 10:13) Saul masih bersikap minder terhadap dirinya sehingga ia  takut saat rakyatnya mulai meninggalkan dia dan mulai melupakan perintah-perintah yang seharusnya ia taati. Kalau kita membacanya lebih lanjut, kita akan menemukan lagi ketidaksetiaan yang Saul lakukan. Hal inilah yang membuat Tuhan tidak berkenan lagi kepadaNya (1 Tim 15:11).

            Nhaaa.. sekarang mari kita melihat tokoh Daud. Siapakah Daud? Daud merupakan orang yang dipanggil Allah. Daud adalah anak bungsu dari Isai. Ia memiliki wajah yang tampan dengan muka kemerah-merahan dan matanya indah (1 Tim16:11-13). Mungkin secara kasar bisa kita bilang Daud memiliki muka yang ‘imut’. Walaupun mempunyai perawakan yang seperti itu, tapi Daud dikatakan sebagai pahlawan yang gagah perkasa (1 Tim 16:18). Padahal pekerjaannya saat itu bukanlah seorang prajurit, melainkan sebagai penggembala kambing domba. Dikatakan juga bahwa Tuhan menyertai Daud. Mungkin sebagian besar dari kita tahu mengenai cerita bagaiman Daud mengalahkan Goliat. Goliat adalah salah seorang Filistin yang sangat ditakuti pada masanya itu. Ia memiliki badan yang sangat besar dan diseluruh tubuhnya terpasang peralatan perang. Pada masa itu Goliat menantang bangsa Israel untuk berperang, one by one. Pada saat Daud mendengar tentang kabar tersebut, ia menjadi marah karena apa yang telah dilakukan Goliat (1 Tim 17:26). Ia pun akhirnya memutuskan untuk pergi melawan Goliat. Tidak ada orang yang berani melawan Goliat pada masa itu karena Goliat memang sudah terkenal kuat. Bahkan saat Saul mendengar Daud akan pergi melawan Goliat, ia mencoba untuk menahan Daud karena Saul yakin Daud tidak akan menang melawan Goliat (1 Tim 17:23). Dengan postur tubuh dan pengalaman Daud dalam berperang, tidak mungkin Daud bisa mengalahkan Goliat. Namun, dengan penuh kepercayaan Daud berkata bahwa Tuhanlah yang akan menyerahkan kaum Filistin itu kepadanya (1 Tim 17:37). Maka pergilah Daud menghadap Goliat.

            Ketika Goliat melihat siapa yang menghapirinya, dihinanya Daud karena ia masih muda dan kemerah-merahan. Bahkan ia berkata “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?”. Namun, Daud tidak gentar dan bahkan berkata , “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak danlembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu” (1 Tim 17:43-45). Singkat cerita, Daud pun berhasil mengalahkan Goliat hanya dengan ketapel dan sebuah batu saja. Ia pun pulang dengan membawa kepala orang Filistin tersebut.

            Apa yang bisa kita teladani dari tokoh Daud ini? Daud tidak rendah diri di saat banyak orang meremehkan dia karena fisiknya. Ia tidak mendengarkan apa kata orang. Daud hanya mendengarkan dan percaya akan kata-kata dan janji Allah. Itulah sebabnya mengapa Allah berkenan kepadanya.

            Mungkin kita sekarang sudah mengalami lahir baru. Sudah menjadi orang Kristen bertahun-tahun. Sudah mengenal Yesus bertahun-tahun. Tapi apakah kita mengalami perubahan menjadi ‘manusia baru’? Apakah kita masih melakukan kebiasaan buruk kita? Atau bahkan kita tetap melakukan dosa yang sama, masih saja jatuh di lubang yang sama?

            Seperti siapakah diri kita sekarang? Apakah seperti Saul yang telah diurapi Roh Kudus tetapi tetap saja bertindak tidak setia kepada Tuhan? Yang bahkan tidak mengalami perubahan sikap dalam hidupnya. Atau seperti Daud yang tetap setia melakukan perintah Tuhan walaupun banyak orang meragukannya?

            Lalu bagaimana agar kita bisa bertahan sampai akhir? Hanya ada satu cara, guys.. bergaul karib dengan Tuhan. Mungkin saat ini kita sedang disibukkan dengan aktivitas kita, baik itu kuliah, mengerjakan laporan, ataupun bekerja. Sadarkah kita bahwa Tuhan setiap hari memberikan kita waktu 24 jam untuk kita bisa beraktivitas. Tetapi sudahkah kita menyediakan waktu untuk Tuhan? Untuk berdoa dan membaca Alkitab, mendengarkan apa yang menjadi kerinduan hati Tuhan terhadap diri kita?

            Maukah kita mulai saat ini berkomitmen untuk mengalami perubahan? Untuk siap diproses Tuhan menjadi emas yang akan semakin berkilau saat terus dipanaskan? Mau seperti apakah kita, Saul atau Daud? That’s your choice..

            Semoga memberkati..

BY : D. A

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *