Apakah Tuhan Jahat ?

Apakah Tuhan Jahat?

 

Langit tak lagi cerah, itulah yang kutemukan di kedua bola mata anakku. Hampir tak pernah kering, air-air itu selalu mengucur dari sebuah lobang kecil di kedua sudut matanya. Saat anakku terlelap, aku akan meletakkan handuk yang sebelumnya telah kubilas dengan air hangat untuk mengurangi bengkak pada matanya.

 

Dion. Masih sangat kecil baginya untuk mulai menginjakkan kaki di atas kepedihan, kepedihan yang seharusnya hanya aku saja yang mengecapnya. Dia belum layak untuk merasakan getir yang untuk saat ini memang belum kutemukan penawarnya.

 

“Mama menangis?”

 

Anakku terbangun, mungkin saja ia menyaksikan air mata yang selama ini kusimpan rapat-rapat telah mengalir begitu derasnya.

 

“Oh, tidak Dion. Mama baru saja menumpahkan botol merica. Mama tidak menangis seperti yang kau sangka.”

 

“Mama sedang tidak berbohong padaku kan?”

 

“Sebaikknya kau tidur sayang. Besok pagi kau harus sudah masuk sekolah.”

 

***

 

Dua makhluk bisu meluncur ke sebuah sekolah dasar dengan menggunakan mobil sedan hitam. Aku dan Dion. Tak satu pun kata yang terlontar dari mulut kami. Begitu kaku, padahal dia anakku sendiri, darah dagingku.

 

“Ma, aku masuk dulu ya.”

 

“Iya sayang. Belajarlah yang rajin.”

 

“Tentu Ma karena Dion ingin menjadi dokter yang hebat.”

 

Dokter. Anakku begitu bersemangat saat mengatakan hal tersebut. Aku hanya bisa sedikit menebak alasan mengapa dia ingin menjadi seorang dokter. Uh, lagi-lagi getir itu menyapa. Sakit. Seperti luka yang belum sembuh benar namun dibubuhi garam secara paksa.

 

***

 

Andaikan dulu aku tak membiarkan hal itu terjadi…

 

“Ma, lihat aku mendapatkan nilai sempurna untuk matematikaku.”

 

“Selamat ya sayang, namun Mama sedang buru-buru.”

 

Mendadak Dion, anakku, terdiam. Dia sangat tahu kesibukanku. Seorang wanita muda dengan kesuksesan yang luar biasa. Banyak perusahaan yang aku pimpin dan aku senang dengan apa yang sudah aku capai sampai saat ini, walau…

 

“Wanita macam apa kau ini! Seorang ibu harusnya berada di rumah sebelum anaknya tidur. Tapi lihat dirimu! Kau pulang subuh!”

 

“Kalau tidak ada aku kan Papa bisa menemani Dion.”

 

“Dia menginginkan kita berdua Ma, bukan hanya aku. Kau berhenti saja dari segala kesibukkanmu dan biarkan aku yang bekerja.”

 

“Gajimu kecil Pa.”

 

Lagi-lagi laki-laki yang telah menjadi suamiku itu terdiam. Tak ada kata yang mampu ia gunakan sebagai senjata. Senjata untuk melawan seorang wanita yang sangat dikasihinya. Dia bukan laki-laki lemah, aku sangat yakin dia selalu berusaha untuk mencoba mengalah.

 

Saat aku membuka mata di siang hari, tak kutemui sosok lelakiku. Secarik kertas putih menarik perhatianku.

 

Ma, aku pergi sebentar. Jagalah Dion untukku.

 

Tidak ada tanya dalam hatiku. Bukan untuk pertama kalinya dia tiba-tiba menghilang. Dan aku tak pernah kuatir soal kepergiannya karena dia akan kembali saat senja menjemput.

 

Aku tak ingin membuang banyak waktu. Kubasahi tubuhku dengan menyapukan cairan putih wangi. Begitu segar dan kuyakin akan membuatku lebih siap mengurus semua perusahaanku hari ini.

 

***

 

Beep! Beep! Beep!

 

Ponselku menyala. Dion. Namamu muncul dalam layar ponselku. Tak biasanya anakku menghubungiku, biasanya dia akan berbicara saat aku sudah tiba di rumah dan itu pun bila dia belum terlelap.

 

“Halo, ada apa sayang? Mama sedang sibuk, bagaimana kalau Dion bicarakan hal itu nanti di rumah.”

 

“Ma, ijinkan Dion bicara sebentar saja.”

 

“Baiklah sayang, ada apa?”

 

“Papa…”

 

“Papa kenapa sayang? Sudah pulang ya? Suruh ambil makanan saja di dapur.”
“Papa sudah pergi Ma.”

 

Aku tahu Dion menahan tangisnya. Aku mencoba untuk tenang dan mencerna apa yang barus aja diucapkan oleh anakku. Dia mengatakan bahwa lelakiku sudah pergi. Yang ada dipikiranku saat ini adalah kematian. Suamiku meninggal? Oh, itu tidak mungkin.

 

“Rapat dibatalkan. Saya ada urusan yang tidak bisa ditunda,” aku berlalu dari meja kerjaku dan menyampaikan pesan pada asistenku.

 

“Baik Bu.”

 

Mungkin Sinta, asisten baruku sangat terkejut saat mendapati diriku ada urusan yang lebih penting selain urusan perusahaan. Dan mungkin ini akan menjadi kabar bahagia baginya karena bisa pulang tepat waktu.

 

***

 

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang telah aku lihat dengan kedua mataku. Banyak orang berkerumun di depan rumahku. Banyak polisi dan orang-orang berbaju putih. Tak ada mobil lelakiku, di depan hanya ada sebuah ambulan.

 

Aku masuk perlahan. Kudapati Dion berlari ke arahku dengan jerit tangis. Mata-mata itu menatapku haru. Dan aku sangat benci dengan tatapan itu.

 

Alex. Pria tampan dengan kulit sawo matang yang meminangku sepuluh tahun silam, kini terbujur kaku. Banyak orang berbisik-bisik dan sesekali melihat ke arahku. Aku rasa mereka sedang prihatin dengan status baruku. Janda dengan satu anak.

 

“Bu..” salah seorang polisi menghampiriku. “Suami ibu terbunuh…”

 

Aku hanya bisa terdiam dan mengambil secarik kertas berdarah yang polisi serahkan padaku. Mungkinkah ini darah suamiku?

 

Sayang, maafkan aku bila saat ini kau temui aku dalam keadaan tak bernyawa. Aku hanya ingin memberimu uang yang banyak. Bahkan lebih banyak dari apa yang kau hasilkan tiap bulannya. Aku hanya ingin kau berada di rumah setia hari untuk mengurus anak kita, Dion. Hanya dengan cara ini aku bisa memberimu banyak uang.
Alex.

 

“Suami Anda terlibat dalam kasus narkoba. Kami mencuriagi suami ibu akan membawa narkoba tersebut ke luar kota. Setelah kami periksa, ternyata di dalam mobilnya terdapat 10 kg narkoba. Suami ibu mencoba untuk kabur, maka kami terpaksa menembaknya.”

 

Oh, Tuhan. Ini tidak mungkin. Aku kaya dan aku tidak kekurangan apapun. Namun apa yang telah Alex lakukan?

 

***

 

Sejak malam itu, Dion membisu. Aku paham betul bahwa dia sangat kehilangan, kehilangan orang yang lebih berharga dibandingkan dengan diriku.

 

Sudah seminggu lamanya dia hanya mengurung diri di kamar, sampai pada akhirnya aku berhasil membujuknya untuk kembali bersekolah.

 

***

 

Sudah pukul 12 siang. Aku harus bersiap menjemput anakku. Aku harus menjadi obat dukanya, walau diriku sendiri belum temukan penyembuhnya.

 

Dion. Berdiri dengan wajah murung di depan sekolahnya. Tak digubris teman-teman yang sudah ramah menyapa dan melambaikan tangan ke arahnya. Dion mendekat begitu aku merapatkan mobil ke arahnya.

 

“Ma…”

 

“Iya sayang, kamu lapar? Nanti kita mampir ke resto deh, kamu bisa makan sepuasnya.”

 

“Ma, apakah Tuhan jahat? Tuhan sudah mengambil Papa dari kita Ma.”

 

“Tuhan tidak jahat sayang, Tuhan begitu menyayangi Papa sehingga Tuhan mengambil Papa dan membuatkan rumah di surga.”

 

“Mengapa Tuhan tidak membawa kita juga Ma?”

 

“Belum waktunya sayang.”

 

Maafkan aku Dion, papamu sangat baik dan Tuhan tidak jahat seperti yang kau pikirkan. Mama yang jahat, mama mengorbankan harga diri papapu hanya demi uang. Mama selalu merendahkan papamu, sehingga Tuhan geram dan mengambilnya.

 

Aku akan menebusnya, menebus semua kesalahanku. Dan akan aku buktikan pada Alex bahwa aku bisa mengurus Dion dengan sangat baik karena aku tak ingin lagi kehilangan orang yang kucintai.

 

-oOo-

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *