GO INTERNATIONAL WITH AIMS (ASEAN International Mobility for Students)!

asfs

Penulis             : Cynthia Andriani

Ilmu dan Teknologi Pangan 2011

andrianicynthia.itp@gmail.com

Pernahkan Anda mendengar mengenai Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) 2015? MEA 2015 menjadi topic yang hangat diperbincangkan oleh public, bahkan digunakan sebagai bahan seminar dalam berbagai event. Iya, MEA merupakan suatu fase untuk memasuki babak baru bagi masyarakat Asia Tenggara dalam membuka koneksi antarnegara. Hubungan antarnegara menjadi seakan tanpa batas, baik dalam bidang pendidikan, perdagangan, tenaga kerja, maupun informasi. Persaingan seakan menjadi semakin ketat. Untuk menjawab persoalan tersebut, sejak 2009 dicetuskan program mobilitas mahasiswa bernama Asean International Mobility for Stusents (AIMS) oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI). Program ini merupakan kerjasama antara universitas dalam negeri dengan beberapa negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Jepang yaitu di bidang pertanian, pangan, edukasi, serta teknologi. Beberapa universitas dalam negeri yang terlibat meliputi IPB, ITB, UI, UGM, UPI, serta UNS. Program ini diadakan secara rutin setiap tahunnya dengan seleksi yang cukup ketat dengan tujuan mempersiapkan diri menghadapi MEA 2015.

Saya merupakan mahasiswa Institut Pertanian Bogor dengan major Ilmu dan Teknologi Pangan angkatan 2011. Di fakultas saya, adalah hal yang wajar saat mahasiswa ke luar negeri mengikuti exchange, konferensi, ataupun lomba lainnya. Saya pun mendaftarkan diri mengikuti seleksi pertukaran pelajar pada semester 5 (2013 akhir). Motivasi saya mengikuti program ini bukan sekadar menambah pengalaman, tetapi saya mau belajar keluar dari zona nyaman saya yaitu kampus dan belajar beradaptasi di lingkungan baru. Bukan hal mudah tentunya harus pergi dalam jangka waktu cukup lama ke tempat yang belum pernah ditinggali sebelumnya. Dan inilah titik challenge yang menarik menurut saya. Saya akan membagikan beberapa hal yang menjadi benefit dari program AIMS ini, yaitu :

  1. Experience

fdfd

Dok.pribadi (Grand Palace, Bangkok)

Saat mengikuti AIMS saya mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan dari berbagai aktivitas yang saya ikuti. Pengalaman tersebut tidak hanya meliputi bidang akademik saja berupa penelitian melainkan social life. berbagai kegiatan seperti social engagement yang saya ikuti di daerah perbatasan mengajarkan saya mengenai semangat kehidupan. Masyarakat daerah perbatasan hidup dengan fasilitas terbatas, namun semangat mereka untuk belajar sangat tinggi. Pada kesempatan tersebut saya diberi kesempatan untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak sekolah dasar, menampilkan kesenian khas Indonesia, serta memasak masakan Indonesia. Saya melihat bagaimana kesiapan masyarakat tersebut menghadapi MEA 2015. Di setiap kelas terdapat atribut negara- negara ASEAN dan bahasa Inggris diajarkan hampir setiap hari. Pengalaman hidup di tengah mahasiswa lokal membuat saya banyak belajar mengenai kebudayaan Thailand, seperti : a) penghormatan yang tinggi terhadap raja dimana setiap pukul 8 pagi dan 6 sore akan diputarkan lagu kebangsaan Thailand; b) seorang biksu dan Ajarn (pengajar) dihormati oleh masyarakat; c) prinsip karma, hal ini menyebabkan tingkat kejahatan di Chiang Rai sangat rendah, karena mereka percaya bahwa tiap tindakan buruk akan mendapat balasa; d) keramahanan penduduk setempat, suka membantu, hal ini berkaitan dengan agama yang mereka anut. Saya juga belajar bahasa Thailand melalui kelas yang diambil. Hal ini membuat saya fasih berbahasa dan bisa berinteraksi dengan lebih baik dengan teman- teman. Pengalaman lain yang tak terlupakan adalah saat menjelajah ke beberapa provinsi di Thailand dan negara tetangga seperti Laos dan Malaysia. Seusai tanggal perkuliahan terakhir dan deadline pengumpulan manuscript di Mae Fah Luang, saya melakukan travelling ke Bangkok dan Kuala Lumpur. Tentunya itu merupakan pengalaman yang luar biasa, saya bertemu banyak orang baru dan membuat saya belajar lebih komunikatif dan adaptatif.

  1. Exit from comfort zone

dfff

Dok. Pribadi (jelajah Kuala Lumpur)

Keluar dari zona nyaman. Itu adalah sekilas kalimat yang mendeskripsikan keberanian saya saat mendaftarkan diri dalam program AIMS. Bukan hal mudah bagi saya meninggalkan studi, organisasi, pekerjaan, serta pertemanan yang telah saya bangun selama 3 tahun ke Thailand dalam jangka waktu cukup lama. Namun, pada saat keluar dari zona nyamanlah saya menjadi lebih keras berusaha dan “memaksa” kita untuk belajar lebih keras. Belum pernah terpikirkan sebelumnya saya berani menjelajah ke luar negeri seorang diri. Saat pergi ke Chiang Mai, Bangkok, dan Kuala Lumpur, saya melakukannya hanya dengan beberapa teman dengan prinsip backpacker dan memanfaatkan informasi yang ada. Saat itu saya ke Chiang Mai hendak melakukan kunjungan balasa dengan pihak utusan IPB, serta ke Bangkok dan Thailand untu menemui teman saya yang juga exchange. Semangat keberanian itulah yang saya dapati secara pribadi. Menjadi seorang yang lebih fleksibel dan adaptif adalah dampak yang saya rasakan. Saat berada di lingkungan baru, saya harus berusaha mau tidak mau mencoba memulai pembicaraan. Satu hal penting yang saya ingin bagikan yaitu, kita adalah duta bagi diri kita sendiri. Saat kita diutus ke luar negeri, kita tidak hanya membawa nama baik diri kita, namun juga keluarga, instansi, serta negara. Akan tetapi, saya menjadi bangga akan bangsa Indonesia. Saat kita mampu memberikan yang terbaik, orang “luar” akan melihat sisi positif dari bangsa Indonesia.

  1. Be a leader of yourself

fgfgfg

Dok. Pribadi (Kompetisi Peper National, di tengah program exchange)

Menjadi seorang pemimpin bagi diri Anda sendiri. Menjalankan penelitian di Thailand dengan lingkungan baru, prosedur dan proses administrasi yang baru, serta harus menyesuaikan diri dengan pembimbing akademik yang baru. Sebagaimana saat penelitian, selesai tidaknya penelitian yang disusun tergantung dari diri kita sendiri. Saat itulah saya belajar untuk memanage disiplin diri. Prinsip yang saya anut ialah : work hard, play hard.

  1. Networking and sharing

dgdgdg

 

Dok. Pribadi (Farewell party dengan Agri-Industry dan staf internasional)

Pertukaran budaya, pikiran, ide merupakan beberapa hal yang saya dapat dari program ini. Antara smahasiswa satu dengan lain, kami bisa saling berbagi. Saya mengikuti kelas bahasa yang mahasiswanya tidak hanya berasal dari Thailand, melainkan juga Korea, Myanmar, Burma, hingga Malaysia. Antara satu mahasiswa dengan yang lain bisa saling berbagi mengenai kebudayaan, informasi, bahkan pandangan. Program pertukaran pelajar membuka pikiran saya. Selama ini saya memiliki pemikiran tertutup dan cenderung memaksakan kehendak pribadi ke orang lain . Exchange membuka mata saya bahwa dunia itu tidaklah terlalu luas untuk dijelajahi. Hidup adalah perjalanan yang panjang, dan sangat disayangkan jika kita masih berdiam di satu tempat saja seiring dengan dunia yang dinamis. Selain itu, hal yang yak kalah penting ialah membangun jejaring. Mengenal dan bertemu banyak orang, terlibat dalam diskusi ringan, adalah tahap awal dalam membangun suatu jaringan.

Masih banyak hal lain yangsaya dapatkan dari pengalaman pertukaran pelajar. Memang, ada harga yang harus dibayar seperti kelulusan yang tertunda, meninggalkan banyak hal dan zona nyaman, serta harus beradaptasi lebih keras. Namun, semuanya itu sebanding dengan apa yang kita dapatkan, segala sesuatunya memiliki opportunity cost. Saya mengajak teman- teman untuk berani! Berani melangkah keluar dari zona nyaman kalian, menjadi duta bagi diri Anda sendiri, serta berpikiran terbuka. Life is never ending journey

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *