Cerpen: Arti Melayani

Oleh Belinda S.

Namaku Anna. Aku memiliki sahabat karib sejak SMA, Martha namanya. Tahun ini kami resmi menjadi mahasiswa baru di universitas yang sama. Namun, baru-baru ini persahabatan kami renggang akibat suatu masalah. Kira-kira tiga minggu yang lalu, mahasiswa Kristen yang baru masuk di universitas kami berkumpul untuk diberi penjelasan seputar pelayanan kampus. Kakak senior kami menjelaskan tentang kegiatan yang setiap tahun diadakan untuk mahasiswa Kristen angkatan baru di universitas kami, yaitu para mahasiswa baru diminta untuk memulai pelayanan perdana di kampus dengan cara menjadi panitia untuk ibadah di awal tahun ajaran.

Setelah bermusyawarah, puji Tuhan aku terpilih menjadi penanggung jawab di bidang acara, sementara Martha di bidang musik. Aku mengusulkan kepada Martha untuk memilih  Roy, salah satu teman yang aku tahu sangat pandai bermain gitar, untuk menjadi pemusik di ibadah ini. Martha pun menyetujui usulku ini.

Seminggu sebelum ibadah dilaksanakan, kami mengadakan gladi bersih. Aku sangat terkejut karena ketika gladi bersih tersebut, bukan Roy yang menjadi pemusik, melainkan Ardi. Setahuku Ardi memang bisa memainkan gitar, tapi ia masih pemula dan sering melakukan kesalahan. Bisa-bisa ia mengacaukan rangkaian ibadah nanti.

“Martha, kenapa pemusiknya Ardi? Bukannya kita sudah sepakat kalau pemusiknya itu Roy? Lagipula Ardi ‘kan sering salah kalau main gitar,” kataku pada Martha.

“Sebenarnya aku juga ingin Roy yang jadi pemusiknya. Tapi kayaknya dia kurang berminat. Buktinya dia nggak pernah datang latihan walaupun sudah dihubungi berkali-kali. Kebetulan Ardi menawarkan diri untuk jadi pemusik, akhirnya aku pikir lebih baik Ardi saja yang jadi pemusik,” jawab Martha panjang lebar.

“Tapi ‘kan Roy jago banget main gitar. Menurutku sekalipun nggak latihan dia tetap bisa tampil,” ujarku lagi.

“Hmm, aku nggak setuju An. Sejak latihan saja dia sudah kelihatan nggak berminat, gimana saat hari-H nanti? Kalaupun dia datang, dia tetap kurang persiapan, belum tahu lagu-lagu yang dipakai waktu ibadah nanti. Bisa jadi nanti malah ibadahnya kacau. Menurutku lebih baik pemusiknya tetap Ardi, karena dia sudah sering latihan dan tahu lagu-lagunya, walaupun mungkin dia nggak sehebat Roy.”

“Tapi aku ingin menampilkan yang terbaik. Apa salah? Kalau kamu nggak mau mengajak Roy jadi pemusik lagi, biar aku saja yang ajak dia,” kataku sedikit emosi.

“Maaf Anna, aku tetap pada keputusanku menjadikan Ardi sebagai pemusik. Menurutku, yang penting ibadah ini tetap bisa terlaksana dengan baik dan lancar tanpa hambatan, walaupun mungkin tidak sesuai ekspektasi kita sebelumnya,” jawab Martha.

Sejak saat itu, hubungan kami merenggang. Sejujurnya aku rindu dengannya. Namun di sisi lain aku juga kesal padanya. Aku hanya ingin menampilkan yang terbaik untuk Tuhan. Selain itu, kualitas angkatan kami juga akan baik di mata para senior jika kami berhasil melaksanakan ibadah ini dengan sukses. Malam ini pikiranku kacau dan jenuh oleh masalah-masalah tersebut, sehingga aku memutuskan untuk bersaat teduh sejenak.

Tuhan berfirman kepadaku melalui Filipi 2:2-3: “(2)karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, (3)dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri.” Aku tersadar, ternyata motivasiku dalam melayani telah salah. Aku hanya memikirkan pujian yang akan kami dapat dari senior dan mementingkan keinginan pribadiku, bahkan lupa bahwa dalam melayani haruslah satu tujuan, yaitu untuk memuliakan Allah. Aku berdoa memohon ampun atas kelalaianku ini, serta tak lupa mengucap syukur atas peringatan dari-Nya melalui Martha, sahabatku. Besok aku akan menemui Martha dan meminta maaf padanya.

– selesai –

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *