ISTILAH “SELA” DALAM KITAB MAZMUR

Kalau Saudara suka membaca kitab Mazmur dengan teliti, maka saudara akan menemukan sebuah kata pendek yang cukup sering muncul terselip di antara ayat-ayat di buku tersebut. Kata tersebut adalah “Sela”. “Sela” dijumpai dalam 39 Mazmur dan seluruhnya berjumlah 71 kali. Di luar mazmur hanya terdapat dalam Habakuk 3:3, 9, 13. Pada beberapa Mazmur istilah ini dijumpai pula sampai 3 kali (Mazmur 3; 32; 46; 66; 68; 77) dan Mazmur 89 bahkan sampai 4 kali. Sebenarnya apa arti “Sela” tersebut? Mengapa Penulis perlu mencantumkan kata tersebut di tengah kalimat? Haruskah kita membacanya ketika membaca kitab Mazmur?

Ada banyak tafsiran yang muncul untuk menjelaskan. Sebagai contoh, ada yang menerangkan “Sela” dalam 3 kategori : pertama, kalau dalam konteks Sastra, diartikan sebagai referensi. Kedua, kalau dalam konteks Liturgi, diartikan sebagai bersujud. Dan ketiga, dalam hubungannya dengan musik, seperti dalam Septuaginta (Alkitab PL dalam bahasa Yunani), yang diterjemahkan “Diapsalma” yang didefinisikan sebagai “selingan musik”.

Pertama yang harus dipahami kitab Mazmur itu berisikan puisi dan syair dari suatu lagu. Dari konteks ini ada beberapa tafasiran tentang “Sela” yang dapat melengkapi pengertian kita: (1) Perhentian untuk menaikkan nada lagu atau suara (tanda Overtone). (2) Perhentian untuk mengangkat mata dan mengulangi kembali dari awal (tanda pemisah lagu). (3) Dalam konteks ibadah, “Sela” merupakan tanda bagi umat tuhan agar membungkuk dan menyentuh tanah dengan dahinya (budaya ibadah orang Timur Tengah) sebagai tanda hormat, penyembahan dan ketaatan kepada Tuhan.

Dengan demikian kalau “Sela” merupakan tanda atau aba-aba bagi penyanyi atau pemusik, maka sebenarnya tidak perlu dibaca, asal si pembaca tahu maksud si penulis/pengarang. Tak heran kalau ada yang membandingkan Sela dengan Reffrain (Reff) atau Chorus (koor) dalam suatu lagu. Sela memang tidak mempengaruhi isi naskah, tetapi menentukan sikap dalam membacanya. Walaupun demikian, karena arti “Sela” dalam kamus Alkitab adalah pause atau istirahat, maka ada baiknya kita berhenti sejenak membacanya. Hal ini mirip seperti koma pada tanda baca.

Fungsi “Sela”

Lebih dari sekedar tanda dalam menyanyi, “Sela” mempunyai arti yang dalam dan luas bukan hanya untuk keperluan menyanyi atau bermusik pada waktu itu, tetapi juga untuk menjalani irama hidup ini pada zaman sekarang.

Rata-rata manusia pada tahapan tertentu selalu terlibat secara emosional dibandingkan dengan rasio, padahal antara stimulant dan respon selalu terdapat ruang, ruang untuk berpikir jernih dan merenungkan segala sesuatunya. Dalam hal ini kita bisa mencoba belajar dari Mazmur Daud, dalam hubungannya dengan istilah “Sela”

“Sela” (dalam Bahasa Indonesia), berasal dari kata “Calah” (bahasa Ibrani artinya”mengukur”), Selah (dalam bahasa Inggris) merupakan aba-aba untuk berhenti sejenak. Dapat pula diartikan diam dan mendengarkan. Sebagai contoh Mazmur 3. Dicatat (3:1) Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. (3:2) Ya Tuhan, betapa banyaknya lawanku.

Banyak orang yang bangkit menyerang aku; (3:3) Banyak orang yang berkata tentang aku : “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.” Sela. (3:4) Tetapi Engkau, Tuhan, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.

Perhatikan di ayat 1-3 terlihat Daud seperti “mengeluh” alias “mengoceh” p;ada Tuhan, namun setelah kata “Sela”, kata-kata Daud langsung berubah menjadi kata-kata positif dan menunjukkan kepercayaan kepada Allah. Dari sini kita melihat bahwa “Sela” (baca: berdiam diri di hadapan Tuhan) memiliki peranan penting dalam mengubah cara Daud dalam berpikir dan bersikap tentang masalahnya. Berdiam dirilah, ambil nafas panjang dan tenangkan diri, setelah itu baru BERSUARA, itulah yang sebaiknya kita lakukan dalam menyelesaikan lirik kehidupan.

 

Aplikasi “Sela” Dalam Kehidupan Kita

Kata “Sela” ini menjadi semacam rambu lalu lintas bagi kita untuk berhenti dan berefleksi. Untuk menimbang-nimbang ayat-ayat yang baru kita baca dan melakukan dialog dengan jiwa kita bersama Allah. Pemazmur seakan memberitahu kita, “Oke, berhentilah di bagian ini dan coba pikirkan, renungkan & cermati!” Setiap kali bertemu kata “Sela”, kita sedang berhadapan dengan rambu STOP& REFLEKSI!

Mazmur 4:5 misalnya berbunyi demikian: “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela.” Kita perlu STOP & REFLEKSI untuk dapat mengerti dan menghargai ayat ini dan ayat-ayat yang mendahuluinya. Kemarahan seringkali menjadi respon mekanisme pertahanan kita saat kita tersinggung atau disakiti. Dan betapa mudah kita jatuh dalam dosa di tengah luapan kemarahan kita. Namun ayat tersebut tidak berkata “Janganlah kamu marah!”, tetapi “Biarlah kamu marah”. Jadi apa maksudnya? Pemazmur bilang bahwa kita dapat menuangkan semua uneg-uneg kita kepada Allah (curhat) dalam konteks doa, termasuk kemarahan kita padaNya, tanpa kita berdosa bersungut-sungut padaNya atau memaki manusia.

Contoh kedua : Mazmur 62:9: “Percayalah kepadaNya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatiMu di hadapanNya, Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela. “ Dalam mengarungi badai hidup yang tiada henti menerpa kita, kita memiliki Allah sebagai tempat kita berlindung, bukan hanya itu, kita pun mendapatkan kekuatan baru untuk tidak menyerah melainkan terus melangkah. Namun yang menjadi masalah, menurut Pemazmur, adalah kita seringkali tidak sungguh-sungguh percaya dan berserah kepadaNya. Ini maksud Pemazmur.

Kata “Retreat” yang artinya “mundur” mungkin mirip dengan makna “Sela”. Karena waktu retreat, kita berhenti sejenak dari semua aktivitas sehari-hari, lalu membuka hati untuk direvisi. Hal ini sama dengan kita ber”Saat Teduh” atau istilah yang sering dipakai di kalangan Katolik “meditasi”. Yaitu waktu untuk menenangkan diri di hadapan Tuhan, untuk mengukur dan menilai semua jalan-jalan kita dari kacamata Allah. Bisa jadi melalui masalah yang sedang kita hadapi, Tuhan mau kita berpindah ke syair hidup yang lain atau menaikkan tingkat kedewasaan.

Tujuan STOP & REFLEKSI adalah untuk kita dapat melakukan dialog batin dengan Tuhan dan diri sendiri. Dalam ritme kehidupan yang begitu cepat dan semakin rumit hari ini, kita perlu menginjak rem kehidupan, dan stop! Lalu berkaca diri dengan Firman Allah, dan menilai adakah ruangan-ruangan dalam hati kita yang perlu ditata ulang. Kita harus sering ber-Sela dalam kehidupan ini. Allah ingin kita berdiam diri di hadapanNya, memberi waktu dan ruang bagi Dia untuk berbicara dengan leluasa pada kita, dan menata ulang perspektif hidup dengan mengakui bahwa Dia adalah Penulis hidup yang hebat. Selamat ber”Sela” ya! (Yis/PRAISE #8).

 

Sumber : www.majalahpraise.com

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *