AMAN DI DALAM TUHAN Mazmur 62: 2-13  

 

Sejak  Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, rasa aman sudah meninggalkan  mereka.  Sebab  jejak  kaki  dan panggilan Allah kepada mereka tidak lagi menghadirkan rasa tenang tetapi ketakutan sehingga mereka bersembunyi dari Allah. Semua itu menunjukkan bahwa sejak saat itu rasa aman sudah menjadi masalah dalam kehidupan manusia di dunia ini. Dunia sudah diliputi dengan kecamuk, manusia yang tidak bisa mengendalikan ambisinya merecoki sesamanya bahkan dengan segala cara.

Tak ada sejengkal ruang-pun didunia ini yang kita bisa jamin akan aman. Berbagai kemungkinan bisa terjadi yang bisa mengambil apa saja yang dimiliki oleh manusia bahkan nyawanya. Keadaan seperti ini bisa membuat orang sangat ketakutan sehingga rasa aman merupakan sesuatu yang langka di dunia ini. Karena itu manusia mencoba untuk dengan segala upaya untuk membentuk pertahanan diri baik secara pribadi, keluarga sampai lingkup negara atau bangsa untuk memiliki rasa aman. Namun seringkali bentuk pertahanan diri itu tidak menjamin bahwa keamanan bisa dihadirkan bahkan karena ketakutan yang berlebihan sering orang tidak bisa berfikir secara rasional dan secara tidak langsung justru mencelakakan dirinya sendiri. Tidak ada satu-pun bentuk pertahanan di dunia ini bisa menjamin keamanan seratus persen, masing-masing ada sisi kelemahannya.

Dunia yang sudah menceburkan diri kedalam dosa dengan silsilah generasi yang semakin panjang menghadirkan fakta bahwa rasa aman merupakan sesuatu yang mahal harganya. Semakin tua usia bumi semakin panjang deretan peristiwa yang menunjukkan bahwa dunia tidak aman dan rasa tidak aman ini tidak mungkin ditiadakan untuk dunia yang menuju kebinasaan. Apapun yang dilakukan manusia untuk mengupayakan rasa aman akan mengalami jalan buntu karena pada dasarnya kita tidak bisa mengendalikan sumber rasa tidak aman itu dengan kekuatan kita kecuali ada kekuatan yang adikodrati yang berasal dari Allah yang memasuki hati kita dan hanya dengan kekuatan itu bentuk rasa tidak aman apapun bisa dijinakkan. Sebab pada dasarnya rasa tidak aman itu terjadi bukan karena kondisi kita yang tidak aman, tetapi karena hati kita yang dikuasai oleh rasa tidak aman. Mungkin ada orang berkata bahwa lingkungannya aman-aman saja, tetapi kalau hatinya bermasalah dia akan tetap akan memiliki hidup yang tidak aman. Namun ada orang yang menghadapi kondisi yang tidak aman tetapi hatinya memiliki damai yang datang dari Allah, maka hidupnya akan aman-aman saja.

Ada satu pribadi yang menawarkan keamanan yang hakiki dimana rasa aman itu tidak akan bisa diambil oleh siapapun dan kondisi apapun yaitu rasa aman yang berasal dari Tuhan, “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (ayat 2-3). Jadi ketenangan hidup dan rasa aman hanya akan kita temukan apabila kita dekat dengan Allah walaupun kondisi di sekitar kita sangat menakutkan. Kata Gunung Batu menunjukkan bahwa ada kekuatan yang tak tergoyahkan. Kalau kita berlindung di balik gunung batu maka badai yang kencang tidak akan bisa menggoyahkan kita.

Rasa aman yang bagaimanakah yang kita dapatkan dalam Tuhan?

“Berapa lamakah kamu hendak menyerbu seseorang, hendak meremukkan dia, hai kamu sekalian, seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh?, Mereka hanya bermaksud menghempaskan dia dari kedudukannya yang tinggi; mereka suka kepada dusta; dengan mulutnya mereka memberkati, tetapi dalam hatinya mereka mengutuki. (ayat 4-5). Dalam nats ini Daud menceritakan bahwa dirinya tengah digoncang oleh keadaan di sekitarnya bahkan sampai membuat kondisi Daud sangat  mengkhawatirkan (seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh) tetapi dalam keadaan yang seperti itu Daud tetap tenang, “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku (ayat 6). Jadi rasa aman bukan ditimbulkan karena kondisi tenang sebab bisa saja orang merasa tidak aman walaupun kondisinya terasa tenang. Rasa aman datangnya dari hati bukan dari lingkungan sekitar kita dan hanya dengan berserah kepada Tuhan, hati yang aman kita miliki.

Karena itu jangan gantungkan pengharapan kita selain kepada Tuhan sebab apapun yang ada di dunia ini  mengecewakan dan tak satupun yang bisa menjamin keamanan kita. Keamanan tidak bisa dibeli dan tidak bisa direkayasa. Mungkin kita memiliki banyak uang, atau kita punya jabatan yang tinggi atau kita punya teman dan koneksi yang banyak, itu semua tidak akan menjamin bahwa diri kita tidak akan diusik oleh keadaan sekitar kita. Karena semakin lama dunia akan semakin tidak aman dan menghadirkan ancaman baik secara fisik maupun spiritual tetapi kalau kita mau berharap kepada Tuhan kondisi yang ada di sekitar kita tidak akan menguasai kita tetapi kitalah yang akan menguasai kondisi. Kondisi di luar selalu ricuh dan morat-marit tetapi apabila hati kita aman, kita akan bisa mengubah kondisi yang tidak baik itu menjadi lebih positif karena hati kita positif (tenang). Namun apabila hati kita ricuh (negatif) maka kondisi yang tenang-pun tidak akan bisa menjadikan kita tenang. Kalau kita bisa menguasai kondisi maka kita akan asik dengan pergumulan bukan mencemaskannya karena justru dalam pergumulan atau keadaan yang tidak kondusif, keamanan hati mendapatkan pembuktian. Apapun kondisi kita saat ini bukan berarti kita tidak berhak memiliki rasa aman.

Tindakan apakah yang harus kita lakukan agar rasa aman senantiasa kita miliki?

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” (ayat 9). Hanya dengan mempercayakan segala keberadaan kita kepada Allah, rasa aman itu akan selalu mendiami hati kita senantiasa. Karena hanya Allahlah yang mampu menguasai segala kondisi yang ada di atmosfir kehidupan kita. Kondisi boleh mengelabui kita tetapi untuk Tuhan kondisi bukanlah suatu hal yang terlalu sukar, semuanya berada dalam otoritas-Nya. Oleh karena itu dekatkan diri kepada Tuhan, curahkan segala kelemahan, ketakutan dan segala hal yang akan mencuri rasa aman kita kepada-Nya maka Tuhanlah yang akan bertindak untuk kita, tidak ada satu kuasa yang bisa menandingi-Nya.

“Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.(ayat 11). Tak ada bisa menjamin keberadaan kita kecuali Allah. Jabatan yang tinggi, uang yang banyak, dan segala yang kita miliki tak akan berarti apa-apa untuk memiliki rasa aman dalam hati. Dan bahkan kalau kita melekatkan diri kepada hal-hal yang fana ini, kita akan dibawa kedalam kehancuran. Tidak salah orang memiliki jabatan yang tinggi, uang yang banyak dan berbagai-bagai kesempatan tetapi semua itu bukanlah jaminan kita akan memiliki rasa aman dalam hati kita. Namun kalau kita telah memili rasa aman karena dekat kepada Allah dan mempercayai pribadinya dalam kehidupan kaita maka segala yang kita miliki akan lebih mengokohkan rasa aman yang kita miliki.

Oleh karena itu sadarilah rasa aman hanya akan kita temukan kalau kita dekat dengan Tuhan dan mempercayakan hidup kita kepada-Nya dan bukan pada apa yang kita miliki dan apa yang dunia bisa lakukan. (*)

 

Sumber: http://www.sabdaspace.org/node/10337

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *