Berbeda Dalam Pencobaan

Berbeda? Satu kata yang memiliki dua makna yang bertolak belakang. Ada yang

menginterpretasikannya sebagai sesuatu yang baik dengan menilik pada suatu identitas, ada

pula yang berpikiran bahwa hal tersebut adalah sebuah beban yang harus ditangung terus-

menerus selama hidupnya. Pikiran polos menyatakan bahwa terkadang, aku tidak menyukai

perbedaan, apalagi bila terkait dengan kebahagiaan. Tinggal di lingkungan keluarga yang

tidak harmonis membuat aku terlantar dan berakhir di panti asuhan, sebuah tempat yang

digadang-gadang menjadi pelabuhan terbaik untuk ku. Tanpa perhatian, tanpa kasih sayang,

tanpa peluk cium dan tanpa kehadiran dari orangtua, merupakan hal biasa yang ku alami

sehari-hari.

Terkadang aku berpikir, mengapa aku berbeda dari anak-anak lain? Sambutan

hangat serta rengkuhan lembut orangtua mengiring langkah kepulangan teman-teman sebaya

ku ketika sampai dirumah. Lagu dan dongeng malam mengantar mereka yang beruntung

untuk terlelap dalam mimpi indahnya, tapi mengapa aku tidak? Mengapa aku tidak

mengalami hal-hal indah seperti yang dialami oleh anak lainnya? Aku merasa hidup ini tidak

adil. Aku hanya seorang anak yang belum mengetahui banyak tentang berbagai hal, dan

sayangnya Tuhan sudah merebut apa yang ku sebut dengan sebuah kenyamanan hidup.

Mempertanyakan kesukaran ku yang terus-menerus tidak membuahkan apapun.

Mendoakan semua agar menjadi seperti keinginan ku pula tak menghasilkan sesuatu, namun

aku masih bersikeras untuk menemukan sebuah alasan mengapa Tuhan ingin aku hidup

dengan berbagai ‘neraka’ dunia ini. Banyak orang dewasa berkata bahwa segala kesulitan

yang datang menyatakan bahwa Tuhan menyayangi kita dan Tuhan tidak akan memberikan

kita pencobaan yang melebihi kesanggupan kita, tapi aku ingin menentang.

Berkali-kali aku mecoba menyakini bahwa Tuhan masih menyayangi ku, bahwa

pencobaan ini tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan ku, namun aku hanya membohongi

diriku. Rasa iri dan lelah mendominasi ku, hingga aku memarahi Tuhan. Menghujat-Nya

hingga ketitik batas ku. Aku tidak terima dengan segala keadaan ini. Aku juga ingin bahagia,

ingin sama seperti yang lainnya. Aku tidak ingin berbeda. Lagipula, mengapa hal buruk in

harus terjadi pada ku? Mengapa tidak pada teman ku yang lain? Mengapa dan mengapa, kata

tanya itu terus berkecamuk, dan akhirnya aku memutus hubungan ku dengan Tuhan untuk

sementara waktu.

Suatu malam ketika hendak tidur, aku mendapati sesuatu yang tak pernah ku sadari.

Aku mendengar deru nafas dan detak jantung ku dengan irama teratur. Saat itu, aku

mengetahui bahwa Tuhan memang selalu mengasihi ku, dia masih membiarkan aku hidup

setelah apa yang telah ku perbuat pada-Nya. Nafas ku masih ada dan aku masih bisa

membuka mata ku, apa lagi yang bisa lebih disyukuri dari pada ini? Malam itu, aku benar-

benar mengerti apa maksud Tuhan dalam hidup ku dengan segala pencobaan yang

diberikannya.

Dibanding berbeda, aku lebih menyukai kata ‘Istimewa’ sebagai gantinya. Aku

adalah anak yang istimewa. Disaat anak lainnya masih sibuk merengek dibelikan mainan

dalam jumlah banyak, aku sudah mengetahui bahwa satu mainan saja sudah cukup untuk

menghibur hati ku yang lara. Disaat anak lainnya meminta untuk digendong diatas pundak

ayahnya, aku sudah meminjamkan pundak ku untuk mengangkat adik kecil lainnya yang

tinggal di panti, agar aku dapat mengurangi rasa sedih dan iri mereka terhadap yang lain.

Disaat anak lainnya masih sibuk bergantung pada orangtua yang ada di hadapan mereka, aku

sudah bergantung pada Tuhan yang walaupun tidak bisa ku lihat, namun aku percaya

keberadaan-Nya.

Ku sadari bahwa dalam hidup ku ini, tidak hanya ada kesedihan, tangisan dan

pencobaan yang mewarnai, namun canda dan tawa pun turut hadir menemani. Saat aku

berhasil mencetak gol, saat aku meraih peringkat tinggi di kelas, saat aku bangga karena bisa

bermain musik dan yang kebahagiaan yang paling sederhana adalah saat aku mengetahui

bahwa aku masih bisa bernafas saat ini dan menunjukan pada semua orang melalui hidup ku,

bahwa aku adalah yang istimewa.

Aku menyakini bahwa setiap dari kita, manusia di bumi ini diciptakan Tuhan dengan

suatu peran. Setiap peran yang ada tentu berguna untuk yang lainnya, meskipun terkadang

peran itu tidak membawa kebahagiaan yang besar untuk kita, ketika kita melakoninya. Aku

pernah berpikir, mengapa ada seorang pembunuh yang tega menghabisi nyawa orang lain

karena dendam padahal itu tidak membawa manfaat pada siapapun dari antara mereka? Hal

itu hanya menyebabkan ratapan tangis tanda ketidakrelaan, namun aku mengetahui nya.

Mungkin saja Tuhan ingin menunjukan bahwa baiknya kita yang masih hidup untuk terus

menjaga tutur kata dan tingkah laku agar hal demikian tidak terulang lagi. Mungkin saja

Tuhan ingin menunjukan bahwa dendam tidak akan membuat siapapun berbahagia, untuk itu

Dia mengajarkan kita untuk terus mengampuni satu sama lain.

Ku sadari, bahwa mungkin memang peran ku ini adalah seorang anak yang

‘Istimewa dalam Pencobaan’ dimana dari kecil aku terus-menerus dijejali oleh berbagai

pencobaan yang membuat ku lebih dewasa dibanding anak lainnya. Bahwa peran ku adalah

untuk mendengarkan mereka yang berkeluh kesah pada ku dan memberikan saran yang

mereka minta padaku. Bahwa peranku adalah untuk membantu mereka dan menyadarkan

bahwa keluhan yang mereka miliki mungkin tidak sebanding dengan ku, namun Tuhan tetap

memiliki maksud dan tujuan yang baik ke depannya. Peran ku adalah untuk bersaksi dengan

hidup ku pada orang banyak, menyatakan bahwa dengan berbagai pencobaan yang datang

silih berganti, aku masih tetap disini, masih tetap berdiri teguh dengan bantuan Tuhan dan

berhasil menghadapi semua serta semakin menyadari kasih Tuhan dalam hidupku. Kasih

bukan dengan cara yang ku inginkan, namun seturut dengan kehendak Tuhan.

Aku menyadari setiap aku terjatuh, setiap aku merasa sudah tidak sanggup, aku

selalu memaki Tuhan dan menjauh dari-Nya, tapi Tuhan tidak pernah meninggalkanku.

Tuhan selalu disisi ku. Dua tahun lalu, saat berumur 13 tahun, aku merasa lebih baik mati

saja karena sudah tidak kuat menghadapi semuanya, sayangnya di umur yang ke 14, aku

masih hidup. Beberapa hari kemudian, di saat umur ku masih 14 tahun, aku ingin mengakhiri

hidup ku, menyadari tidak ada perubahaan yang terjadi terkait dengan kebahagiaan, dan

penderitaan yang diberikan pun semakin sulit. Dan hari ini, untungnya di umur ku yang ke 15

ini, aku masih hidup, masih bisa menghirup oksigen yang diberikan secara cuma-cuma dari

Tuhan. Masih bisa bercengkrama ria bersama teman-teman panti yang lain, tertawa dan

melontarkan candaan yang bisa mengurangi kesedihan kami masing-masing. Masih bisa

menyadari akan kasih Tuhan yang menyertai ku sepanjang hidup ku ini. Untung saja masih

hidup, karena aku tidak tau betapa menyesalnya aku, ketika selama ini yang ku ingat hanya

penderitaan dan pencobaan yang terjadi, tanpa tau kasih Tuhan yang sebenarnya menyelip

dalam setiap luka yang tertoreh di hatiku. Skenario yang dibuat Tuhan mungkin tidak indah

pada awalnya, tidak indah pada perjalanannya bahkan mungkin tidak indah pada akhirnya.

Namun aku yakin, rencana Tuhan indah pada keabadian yang akan diberikan nya pada umat

yang selalu percaya dan turut pada-Nya.

-ditulis oleh Rachel Christy.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *