Kegagalan Keluarga Salomo

“Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing isteri-isterinya itu mencondongkan

hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN,

Allahnya, seperti Daud, ayahnya” [ I Raja-Raja 11:1,4 ].Salomo adalah seorang yang sangat dikasihi Tuhan, bahkan melalui nabi Natan, Tuhan

menamakannya Yedija. Tuhan menampakkan DiriNya kepada Salomo 2 kali. Pertama, ketika

Salomo meminta hikmat, yaitu hati yang faham menimbang perkara agar dapat menghakimi

Umat Israel ( I Raja-Raja 3:5 ). Kedua, ketika Salomo mendirikan Bait Suci ( I Raja-Raja 6:11-

13 ). Pada dua kali penampakkan DiriNya kepada Salomo itu, Ia berfirman, "jika engkau hidup

menurut segala ketetapanKu", maka Tuhan menjanjikan ini dan itu kepadanya. Jadi, sekalipun

Salomo sangat dikasihi Tuhan dan Tuhan telah dua kali menampakkan DiriNya kepada Salomo,

namun jika Salomo menyimpang dan tidak hidup menurut ketetapanNya, maka akan ada akibat

yang harus ditanggungnya ( dan keluarganya / keturunannya ) sebagai disiplin Tuhan.

Ayat diatas menegaskan bahwa Salomo mencintai banyak perempuan asing, padahal Tuhan telah

berfirman, “Janganlah kamu bergaul dengan mereka sesungguhnya mereka akan

mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka” ( I Raja-Raja 11:2 ). Salomo gagal

memperhatikan peringatan Tuhan ini, sehingga ketika ia telah menjadi tua, isteri-isterinya

meminta agar dibangun bukit-bukit pengorbanan bagi allah-allah mereka, dan Salomo

mengizinkannya. Karena tindakannya ini, maka Tuhan membangkitkan lawan-lawan Salomo

sehingga tidak ada lagi damai sebagaimana sebelumnya, dan yang sangat menyedihkan bahwa

Tuhan akan memecah kerajaannya.

Apa yang menyebabkan Salomo jatuh kedalam penyembahan berhala ? Mengapa hikmatnya

tidak dapat mencegah dia dari penyembahan berhala ? Penyebab kejatuhan Salomo jelas karena

hatinya mencintai banyak perempuan asing, sedemikian sehingga ia mengabaikan peringatan

Tuhan, bahkan sampai masa tuanya. Hatinya benar-benar telah terpaut kepada sesuatu yang lain

dan bukan kepada Tuhan. Hikmat yang diperolehnya dari Tuhan, ternyata lebih banyak

bersangkut paut dengan pikirannya, dan bukan hatinya. Dalam kehidupan ini, ternyata hati lebih

menentukan masa depan seseorang daripada pikirannya. Pikiran ada tempatnya, tetapi hati

menentukan jalan hidup seseorang. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Jagalah hatimu dengan

segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan".

Ketika hatinya telah terpaut kepada yang lain, Salomo tidak lagi mengikut Tuhan dengan

sepenuh hati, seperti Daud, ayahnya. Daud adalah seorang yang hatinya berkenan kepada Tuhan,

walaupun Daud juga memiliki kegagalan-kegagalannya. Namun hati Daud melekat kepada

Tuhan. Salah satu mazmurnya adalah, "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair,

demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah". Salomo memiliki hikmat, kekayaan,

keterkenalan, dan ia juga memiliki pewahyuan karena Tuhan telah menyatakan Diri dua kali

kepadanya, namun yang menentukan jalan hidup seseorang adalah hatinya. Bagaimana dengan

hati kita, khususnya para bapa ? Apakah para bapa mencintai Tuhan atau dunia ini ? Boleh jadi

seorang bapa memiliki hikmat, kekayaan, keterkenalan, pewahyuan, dan mungkin pelayanan

yang luas. Tetapi, pelajaran diatas menegaskan bahwa, pada akhirnya, yang menentukan hidup

seseorang adalah hatinya. Apakah ia mencintai Tuhan dan terpaut kepadaNya, atau terpaut

kepada yang lain.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *