SANDWICH

 

sandwich2

Supaya mudah mengingatnya, maka artikel ini saya beri judul SANDWICH. Artikel ini adalah seri terakhir dari artikel terdahulu. Yang mana dalam artikel ini saya akan mengulas ayat terakhir dari Mazmur 23.

Bagi sebagian orang sandwich adalah bagian dari keseharian mereka. Bahkan itu bagaikan ‘lagu wajib’.

Apa itu sandwich?

Demikian kutipan mengenai sandwich dari Wikipedia:

Sandwich adalah item makanan yang terdiri dari satu atau lebih jenis makanan, seperti sayuran, irisan keju atau daging, ditempatkan pada atau antara irisan roti. Atau lebih umum, setiap hidangan di mana dua atau lebih potongan roti berfungsi sebagai wadah atau pembungkus untuk beberapa makanan lainnya [1] [2] [3] Awalnya sandwich adalah item makanan yang mulai populer di Dunia Barat. Hari ini sandwich dalam berbagai versi bisa ditemukan di seluruh dunia.

Sandwich adalah jenis makanan siang yang populer, dibawa ke tempat kerja, sekolah, atau piknik untuk dimakan sebagai bagian dari makan siang yang dikemas. Roti dapat digunakan polos, atau dapat dilapisi dengan satu atau lebih bumbu seperti mayones atau mustard untuk meningkatkan rasa dan tekstur. Selain menjadi buatan sendiri, sandwich juga banyak dijual di restoran dan kafe, dan kadang-kadang disajikan panas serta dingin. [4] [5] Ada sandwich yang gurih, yang berisi daging sandwich, dan juga ada sandwich yang manis, seperti selai kacang dan jelly sandwich.

Sandwich dianggap senama dari John Montagu, 4 Earl of Sandwich, karena klaim bahwa ia adalah penemu eponymous dari kombinasi makanan ini. [6] [7] The Wall Street Journal telah menggambarkannya sebagai “kontribusi terbesar Inggris untuk keahlian memasak “. [8]

Demikianlah kutipan mengenai sandwich dan saya mencoba menterjemahkannya.

Tidaklah salah jikalau saya menggambarkan Mazmur 23 ini bagaikan sandwich. Maksudnya adalah bahwa ayat 6 dari Mazmur 23 ini adalah kalimat yang sebenarnya senada dengan ayat 1. Bagian penutup Mazmur 23 ini hanyalah ungkapan lain yang inti sarinya sama dengan ayat pembukanya.

Baiklah, kita perhatikan ayat 6 dari Mazmur 23 ini.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,

kebajikan” adalah kata benda. Artinya: sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, dsb); perbuatan baik (demikian kutipan dari ArtiKata.com)

kemurahan” juga adalah kata benda yang memiliki makna: kebaikan, kelimpahan.

Dengan memperhatikan penjelasan dua kata tersebut maka dapatlah kita simpulkan bahwa dua kata tersebut memiliki makna yang hampir mirip. Namun Daud sebagai penulis Mazmur ini tidak memilih satu kata saja, melainkan menggunakan keduanya kendati keduanya itu mirip artinya. Daud ingin memberikan tekanan atau penegasan dengan gayanya yang puitis. Bahwasannya ada doubble blessing atau berkat ganda yang kesemuanya itu baik adanya.

Selanjutnya kita memperhatikan kata mengikuti, kata itu memiliki makna: “membuntuti” atau “mengejar”. Sehingga frasa itu menjadi demikian:

Kebajikan dan kemurahan belaka akan membuntuti aku,

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengejar aku,

Maka implikasinya bagi kita adalah demikian;

Ke mana engkau pergi tak usah takut karena di sana ada double blessing yang akan membuntutimu.

Ke mana engkau diutus tak perlu ragu karena di sana ada berkat ganda yang akan mengejarmu.

Bukankah semua orang berdoa untuk keselamatan, keberuntungan, kebaikan dan kelimpahan? Doa itu sangat populer di Chinese New Year atau Hari Raya Imlek. Doa yang sama sudah ditulis oleh Daud dalam ayat 6 ini; “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku.” Bahkan Daud mengalami bahwa Gembala yang baik itu tidak pernah pelit untuk perkara-perkara itu.

Frasa tersebut belumlah titik, ada kelanjutannya, seumur hidupku;

Kata “seumur” bisa berarti “semua” atau “seluruh”.

Sedangkan kata “hidup” bisa berarti “hari-hari”.

Ooooooo….alangkah indahnya jika kita melalui hari-hari kita dengan satu kesadaran bahwa baik pagi maupun siang bahkan di malam hari pun ada doubble blessing yang sedang mengikuti kita, yang sedang membuntuti kita, yang sedang mengejar kita. Oleh karena itu hidup yang Tuhan sediakan itu nikmat jika kita menikmati dengan syukur.

Penutup dari Mazmur 23 ini berupa respon atau tanggapan Daud atas segala kebaikan Tuhan.

dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Ada 2 point,

  1. Tentu kalimat Daud ini bukan sebuah tekad Daud untuk menjadi satpam gereja. Bukan dan pasti bukan. Pada jaman itu orang Israel percaya bahwa di dalam rumah TUHAN atau di dalam bait Tuhan di sanalah Tuhan hadir, di sanalah Tuhan berpengapa kepada umatNya. Sehingga ungkapan Daud itu memiliki makna bahwa sepanjang masa dia ingin menikmati kehadiran Tuhan. Sepanjang masa dia ingin menikmati sapaan Tuhan.
  2. Lebih dari itu, kalimat itu adalah ungkapan yang mengandung pesan tentang kebaikan dan kesetiaan. Suatu ungkapan bahwa hati Daud melekat kepada Tuhan. Suatu ungkapan rasa kasih sayang Daud kepada Gembala yang baik. Daud bertekad membalas kebaikan Tuhan dengan niat yang baik, yang sesuai dengan isi hati Tuhan yaitu setia mengiring Tuhan.

Maka teringatlah saya akan pujian seorang tuan yang disampaikan kepada dua orang hamba yang tercatat dalam kisah ‘perumpamaan tentang talenta’ (Matius 25:14-30). Bagi banyak orang Kristen perumpamaan tersebut sangatlah familiar. Baiklah saya kutipkan pujian tuan itu, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

“Baik” dan “setia” itulah yang menjadi point penilaian sang tuan terhadap hamba-hambanya. Ternyata sebelum Tuhan Yesus lahir di tengah dunia ini Daud sudah menangkap point itu. Itulah sari kehidupan.

Segala renda-renda kehidupan boleh diabaikan, asal sarinya adalah baik dan setia.

Segala bumbu-bumbu kehidupan boleh disingkirkan, asalkan sarinya adalah baik dan setia.

Segala gelar dan prestasi boleh ditanggalkan, asalkan sarinya adalah baik dan setia.

Segala permata dan mutiara boleh dimusnahkan, asalkan sarinya adalah baik dan setia.

Segala tantangan dan kesulitan boleh menghampiri, asalkan sarinya adalah baik dan setia.

Segala ujian dan cobaan boleh menyapa, asalkan sarinya adalah baik dan setia.

Sebagai penutup akan saya tuliskan sepotong kisah yang berbau korupsi. Jangan kuatir, karena kisah ini bukanlah asli Indonesia melainkan kisah import dari Inggris.

Judulnya: The Clever Shoemaker. Atau saya terjemahkan: Tukang Sepatu yang Cerdik. Ditulis oleh Donald Dallas. Jika saya terjemahkan maka kira-kira demikian,

Sekali waktu ada seorang tukang sepatu dan istrinya Gertrude. Mereka memiliki seorang putera bernama Claus dan seorang puteri bernama Clara. Mereka bekerja keras tetapi keluarga mereka sangat miskin. Mereka memiliki pakaian tua dan mereka tidak punya banyak makanan. Bahkan kucing mereka sangat kurus seakan hanya tulang berbungkus kulit.

Suatu hari mereka mendengar suara ribut di luar rumah. Istri pembuat sepatu menengok dari jendela dan melihat orang-orang bersorak dan melambaikan tangan. Dia melihat dua kuda putih yang indah menarik sebuah kereta emas. Di dalam kereta itu ternyata Raja.

“Siapa itu?” tanya pembuat sepatu itu.

“Itu Raja,” jawab istrinya, “dan dia datang ke sini.” Ketika itu kereta Raja berhenti tepat di depan rumah tukang sepatu.

Terdengarlah pintu rumah tukang sepatu diketuk. Lalu pembuat sepatu yang membukakan pintu. Raja bertamu ke rumah tukang sepatu.

“Silakan masuk, Yang Mulia,” kata pembuat sepatu itu.

“Silakan duduk, Baginda. Dapatkah saya membantu Anda, Yang Mulia?”

“Ya,” jawab Raja,

“Saya ingin sepasang sepatu baru. Saya ingin sepatu terbaik di kerajaan. Dapatkah Anda membuatkan saya sepasang sepatu yang baik?”

“Ya,” kata pembuat sepatu itu,

“Saya bisa membuatkan Anda sepasang sepatu bot yang gagah.”

“Baiklah,” jawab Raja. “Bawa sepatu itu ke istana besok.”

Tukang sepatu itu bekerja keras. Dia bekerja sepanjang hari dan sepanjang malam. Akhirnya sepatu telah jadi.

“Pa, apakah saya bisa melihat sepatu baru untuk Raja?” demikian permintaan Claus dan Clara ketika mereka bangun pagi.

“Ohhhhh…. sepatu yang fantastis!” kata Clara. “Itu adalah sepatu terbaik yang pernah saya lihat.”

Ada warna merah dan emas dan sepatu itu terbuat dari kulit terbaik. Gespernya terbuat dari emas.

Hari itu pembuat sepatu bersiap-siap menuju istana Raja untuk mengantar sepatu Raja. Sekian waktu berlalu maka singkat cerita sampailah dia di depan pintu gerbang istana Raja.

“Kamu siapa?” tanya satpam kerajaan yang bertugas di pintu gerbang istana Raja.

“Aku pembuat sepatu itu,” jawabnya.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya satpam itu.

“Saya membawa sepatu pesanan Raja. Dia mengatakan kepada saya untuk datang ke istana hari ini. Saya ingin menyampaikan sepatu ini kepada Raja,” jawab tukang sepatu itu.

“Baiklah,” kata satpam itu, “Anda bisa masuk. Tetapi aku menginginkan sesuatu dari Anda.”

Pembuat sepatu itu terkejut. “Anda menginginkan sesuatu dari saya? Apa maksudmu?” Dia bertanya.

“Saya ingin setengah dari segala sesuatu yang Raja nanti berikan kepadamu untuk sepatu,” jawab satpam itu.

“Setengah dari semua yang Raja berikan kepadaku? Tetapi itu tidak adil. Bagaimana dengan semua pekerjaan saya? Saya telah bekerja seharian dan semalaman. Dan saya juga sudah melakukan perjalanan yang jauh menuju istana ini.” demikian kata pembuat sepatu itu.

“Beri aku setengah dari semua yang Raja memberikan kepadamu atau kamu tidak bisa masuk,” demikian gertak satpam itu.

“Oh, baiklah,” kata pembuat sepatu itu.

Satpam itu membuka gerbang istana dan pembuat sepatu berjalan memasuki pintu gerbang menuju gedung istana.

Kemudian, ia menghampiri pintu istana. Ternyata di sana ada satpam yang lain.

“Apa yang Anda inginkan?” tanya satpam itu.

“Ini adalah sepatu baru Raja,” jawab tukang sepatu itu. “Saya ingin menyampaikan sepatu ini kepadanya.”

“Baiklah,” kata satpam itu. “Anda dapat menyampaikan sepatu ini kepada Raja. Tetapi Anda harus memberikan setengah dari segala sesuatu yang Raja berikan kepada Anda untuk sepatu ini.”

“Itu tidak adil. Bagaimana dengan semua pekerjaan saya?” tanya pembuat sepatu itu.

“Beri aku setengah dari semua yang raja berikan kepada Anda atau Anda tidak bisa masuk,” dengan nada geram dan berat satpam itu bertutur.

“Oh, baiklah,” kata pembuat sepatu itu.

Satpam itu membukakan pintu istana dan pembuat sepatu berjalan menghadap Raja di dalam istana.

Pembuat sepatu berdiri di depan Raja.

“Berikut adalah sepatu Anda, Yang Mulia,” katanya.

“Terima kasih, pembuat sepatu”, kata Raja. “Sepatu itu adalah sepatu bot indah. Kulitnya begitu lembut. Dan warna-warnanya indah. Gesper ini fantastis. Ini adalah sepatu terbaik di Britania. Berikut adalah dua puluh koin emas untuk sepatu ini.”

Tiba-tiba pembuat sepatu punya ide.

“Terima kasih, Yang Mulia,” katanya, “tapi saya tidak ingin uang untuk sepatu ini”.

Raja sangat terkejut.

“Kenapa kau tidak ingin uang untuk sepatu?” Raja bertanya. “Saya tidak mengerti. Ini sepatu yang indah. Dan Anda adalah orang miskin. Silakan mengambil uang. Ambil tiga puluh koin emas????…… Empat puluh …?????” Raja terus menaikkan harga beli sepatu itu.

“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab tukang sepatu itu. “Anda sangat baik, tapi saya tidak ingin uang untuk sepatu ini.”

“Baiklah,” kata Raja, “apa yang Anda inginkan? Katakan saja….Anda dapat memiliki apa pun yang Anda suka. Katakan saja dan aku akan memberikannya kepada Anda.”

“Saya ingin empat puluh pukulan dari cambuk itu.” kata pembuat sepatu itu.

“Apa kamu marah?” tanya Raja. “Kau miskin. Istri dan anak-anakmu tidak punya banyak uang untuk makan. Dan kamu ingin empat puluh cambukan?”

“Ya, silakan, Yang Mulia,” jawab tukang sepatu itu.

Raja menggeleng dan mengerutkan kening. Dia sangat bingung. “Saya tidak mengerti,” katanya, “tetapi kamu dapat memiliki apa yang kamu inginkan!”

Raja berpaling ke salah satu prajuritnya. “Tentara,” katanya, “datang ke sini! Berikan pembuat sepatu ini pukulan sebanyak empat puluh cambukan.”

“Ya, Yang Mulia,” jawab tentara itu.

“Kemarilah, Pembuat Sepatu.”

“Tunggu sebentar,” kata pembuat sepatu itu. “Saya ingin setengah dari pembayaran saya untuk sepatu ini diberikan kepada Bapak Satpam yang bertugas di pintu gerbang. Jadi tolong berikan kepadanya dua puluh cambukan.”

“Apakah itu benar, Richard?” tanya raja kepada Richard si satpam yang bertugas di pintu gerbang istana.

Richard, si satpam, bergumam, “E…….Yang Mulia. Maksudku, …..ya…..aku minta maaf …”

“Aha!” kata Raja. “Sekarang saya mengerti.”

Raja berbalik kepada hambanya.

“Kau seorang hamba yang tidak jujur, Richard,” katanya. “Kamu ingin pembuat sepatu ini membayar uang kepadamu barulah kamu ijinkan dia masuk istana. Kamu akan mendapatkan apa yang layak buatmu.” Lalu perintah Raja kepada tentaranya, “Bawa dia pergi dan berikan dua puluh cambukan.”

Dengan spontan Richard si satpam itu berteriak, “Oh tidak. Tolong biarkan saya pergi !!! Tolong jangan cambuk saya !!!”

“Diam!” raung Raja. “Bawa dia pergi !”

“Nah, pembuat sepatu. Anda meminta empat puluh cambukan. Bagaimana dengan yang dua puluh sisanya? Apakah Anda ingin dicambuk sekarang?”

“Tidak, terima kasih, Yang Mulia,” jawab tukang sepatu itu. “Ada hamba yang tidak jujur lain. Dia satpam yang bertugas di pintu gedung istana. Dia ingin setengah lainnya dari pembayaran saya untuk sepatu itu. Silakan memberinya dua puluh cambukan.”

“Apakah benar ini, Edward? Apakah kamu tidak jujur juga?” tanya Raja.

“Saya sangat menyesal, Yang Mulia,” jawab satpam Edward. “Mohon untuk…”

“Diam !” raung Raja. Lalu Raja memberi perintah kepada tentaranya, “Bawa dia pergi dan memberinya dua puluh cambukan.”

Raja berpaling ke tukang sepatu itu. “Kau orang cerdik, Pembuat Sepatu,” katanya. “Mereka adalah satpam yang tidak jujur. Tapi kamu harus menerima upahmu dan menerimanya lebih banyak lagi!”

“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab tukang sepatu itu.

Raja mengambil tas koin. “Ambil empat puluh koin emas ini, Pembuat Sepatu,” kata Raja. “Mulai sekarang kamu dapat membuat semua sepatu saya. Dan kamu dapat membuat sepatu untuk keluarga saya dan semua pegawai istana.”

“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab tukang sepatu itu. “Terima kasih sekali!”

“Sekarang, pegawai,” kata Raja, “siapkan kereta kuda dan antarkan saya dan Tukang Sepatu ini pulang ke rumahnya. Tentara, beri tahu orang-orang pergi ke jalan untuk menyambutnya.”

Gertrude dan anak-anak di rumah. Mereka mendengar suara ribut di jalan. “Suara apa itu di luar, anak-anak?” tanya Gertrude.

Claus melihat keluar dari jendela. “Ada banyak orang di jalan,” katanya. “Mereka bersorak. Ada banyak tentara dan kuda dan kereta yang indah.”

“Itu kereta Raja,” teriak Clara, “dan kereta itu berhenti di depan pintu rumah kita. Lihatlah!”

“Astaga!” kata Gertrude.

“Ini ayahmu dan Raja. Raja mengantar ayahmu pulang ke rumah dengan kereta! Ini luar biasa!”

Selanjutnya keluarga pembuat sepatu itu tidak miskin lagi. Semua orang di kerajaan ingin membeli sepatu dari pembuat sepatu itu. Dia membeli sebuah rumah baru dan tempat kerja yang baik. Keluarganya memiliki baju baru. Anak-anaknya tidak lapar lagi. Bahkan kucing tumbuh besar dan gemuk dan mereka semua hidup bahagia selamanya.

Demikianlah kisah Tukang Sepatu yang Cerdik.

Hidup dan kehidupan orang Kristen acapkali dihampiri kejahatan korupsi. Ini adalah realita pahit. Kendati demikian, ingatlah kisah Tukang Sepatu Yang Cerdik ini. Kisahnya adalah happy ending. Karena dia baik dan setia maka dia kebanjiran order. Pasti dia mengerti apa yang dikatakan Daud dalam Mazmur 23:6,

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku,

seumur hidupku;

dan aku akan diam dalam rumah TUHAN

sepanjang masa.

Bukankah Anda setuju bahwa Mazmur 23 ini strukturnya bagaikan SANDWICH ? Karena Tuhan adalah gembalaku maka kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikutiku. Kiranya selalu ada SANDWICH surgawi yang bisa kita nikmati dalam hari-hari kita.

Yvonne Sumilat, 26 Januari 2016

http://artikel.sabda.org/sandwich

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *