Sarana Tuhan Berbicara (Artikel dari BPH)

Oleh Dr. Erastus Sabdono, dikutip dari Mengalami Tuhan.

Untitled

Bagaimana sebenarnya mendengar suara Tuhan itu dan bagaimanakah kita mengalaminya? Untuk menjelaskan hal ini maka perlu kita membedakan beberapa kategori suara Tuhan.

         Pertama, suara Tuhan melalui Firman-Nya. Suara Tuhan melalui Firman-Nya yaitu suara Tuhan yang diperdengarkan kepada kita melalui pemberitaan Firman Tuhan yang berlandaskan penggalian isi Alkitab secara benar. Tuhan memfasilitasi jemaat dengan pengajar-pengajar Alkitab yang baik, kaset-kaset khotbah, VCD khotbah, buku-buku rohani yang bermutu dan panggilan Alkitab secara pribadi. Alkitab berisi Firman Tuhan atau suara Tuhan.1 Inilah yang menjadi sumber suara Tuhan. Mendengar suara Tuhan kategori satu ini diistilahkan suara Tuhan secara pasif. Mendengar suara Tuhan melalui Firman-Nya ini merupakan makanan yang mutlak harus kita konsumsi.2 Dari mendengar suara Tuhan inilah kita dapat mengerti apakah yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.3

         Kedua, suara Tuhan melalui hati atau batin, maksudnya adalah Tuhan berbicara kepada kita melalui sarana hati atau batin kita. Biasanya suara ini kita peroleh bertalian dengan masalah yang sedang kita hadapi atau pada saat kita harus mengambil suatu keputusan, dalam masalah-masalah khusus khusus, dan lain-lain. Kepekaan mengerti apa yang Tuhan kehendaki harus kita miliki dalam segala perkara. Dalam hal ini kita mengerti mengapa mendengar suara Tuhan dikatakan sebagai hal yang umum, biasa, dan wajar, yang harus kita alami setiap hari. Tuhan pasti berbicara kepada kita setiap hari dengan aktifnya.4 Tanpa mendengar suara Tuhan, kita pasti binasa dan menjadi mangsa empuk kuasa dunia atau kuasa kegelapan. Pengalaman selalu mendengar suara Bapa dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 5:19. Apa yang dikerjakan Tuhan Yesus adalah apa yang dilihat-Nya dari Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus bisa berkata bahwa Ia selalu melakukan kehendak Bapa.5 Untuk mendengar suara ini kita tidak harus atau tidak perlu secara audible. Hati nurani kita adalah sebuah institusi yang dapat dipakai Tuhan untuk berbicara kepada kita. Hati nurani ini didewasakan atau dimurnikan dengan kebenaran Firman Tuhan yang kita baca. Masalah yang kemudian timbul adalah bagaimana membedakan suara Tuhan dan bukan suara Tuhan.

          Ketiga, suara Tuhan secara khusus. Suara Tuhan secara khusus adalah suara Tuhan yang biasanya kita terima berhubung dengan rencana-rencana Tuhan secara khusus yang harus kita lakukan.6 Biasanya hal ini disampaikan Tuhan melalui sarana-sarana khusus atau secara spektakuler, seperti mimpi, penglihatan, nubuatan, dan lain sebagainya. Kadang-kadang suara ini berisi pesan-pesan khusus, baik bagi kita maupun orang lain. Biasanya yang menerima suara khusus ini—atau yang menjadi pengantaranya—adalah orang-orang yang dapat dipercaya Tuhan atau yang sudah dewasa. Samuel dipakai Tuhan untuk berbicara kepada imam Eli, karena imam Eli sudah terlalu lama hidup tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan. Tuhan lebih memercayai Samuel yang dengan setia melayani di bait Allah. Suara Tuhan ini merupakan landasan dari mendengar suara Tuhan kategori kedua dan ketiga. Seseorang tidak akan dipercayai mendengar suara Tuhan yang kedua dan ketiga secara permanen tanpa memiliki landasan suara Tuhan yang pertama, yaitu melalui Firman-Nya.

         Keempat, suara Tuhan juga bisa melalui segala peristiwa hidup. Inilah suara Tuhan dalam sejarah atau melalui kejadian hidup. Dalam Lukas 15 dikisahkan perumpamaan tentang anak terhilang. Melalui kemiskinan dan penderitaannya, Tuhan berbicara kepada si bungsu.

         Menjadi masalah pelik adalah bagaimana kita membedakan suara Tuhan dan bukan suara Tuhan. Ada beberapa ukuran yang dapat kita gunakan sebagai usaha untuk membedakan suara Tuhan dan bukan antara lain, yaitu: suara Tuhan pasti tidak bertentangan dengan Firman-Nya, suara Tuhan pasti mendatangkan damai sejahtera bagi suasana juwa kita, suara Tuhan menjadi berkat bagi orang yang menerimanya, bila bagi diri sendiri suara Tuhan mendatangkan keuntungan bagi pertumbuhan iman dan harmonisnya hubungan dengan Tuhan, suara Tuhan mendorong hati kita memuliakan Tuhan, suara Tuhan membuat hati kita bergemar untuk memuji dan menyembah Tuhan. Bila suara Tuhan yang kita dengar, maka ada iman atau keyakinan bahwa itu suara Tuhan, apabila ada keragu-raguan, harus diperiksa dengan seksama.

 

  1. Ulangan 13:18; 28:1, 2) Matius 4:4, 3) Roma 12:2, 4) Yohanes 10:4-5, 5) Yohanes 5:30, 6) Kisah Para Rasul 13:1-3

 

Diambil dari buku Suara Kebenaran (Daily Enlightment): Mengalami Tuhan

Diterbitkan oleh Rehobot Literature, Jakarta (2015).

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *