BERTAHAN DALAM PANGGILAN

Sebagai seorang yang telah menerima janji Tuhan, sebenarnya Abraham berhak untuk marah kepada Tuhan, karena sampai bertahun-tahun lamanya Abraham menanti-nantikan janji Tuhan tersebut belum juga di genapi. Namun mengapa Abraham tetap setia menantikannya? Sebuah pertanyaan yang bagus, mengingat Abraham, yang sebelum bertemu dengan Tuhan bernama Abram ( bahasa ibrani : BAPA YANG DIMULIAKAN ) adalah seorang yang di pakai Tuhan menjadi bapa bagi banyak bangsa. Mengapa Abraham begitu setia menantikan janji Tuhan tersebut, karena dia mempunyai sebuah visi rohani dalam hidupnya. Yaitu sebuah kota yang mempunyai dasar, direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Dengan dasar inilah Abraham mulai hidup didalamnya, gaya hidupnya, karakternya, cara berpikirnya mulai berubah, menyesuaikan dengan apa yang Tuhan mau.

Segala konsep hidup yang pernah dia hidupi, sebelumnya ketika masih tinggal bersama Terah ayahnya dibuang jauh-jauh, dan mulai melihat jauh ke depan kepada apa yang Tuhan janjikan baginya. Keluar dari zona kenyamanan dan masuk ke dalam kehidupan bayar harga, dengan harga yang tidak murah dengan harus keluar masuk padang gurun, berhadapan dengan banyak bangsa-bangsa yang kuat. Ini sebuah proses pembentukan yang Tuhan lakukan terhadap Abraham, pendewasaan karakter, motivasi dan kematian kedagingan, sampai dia berkata “ YA “ terhadap kehendak Tuhan.

Seorang jendral tidak akan serta merta menjadi jendral, tetapi ada proses dari nol yang harus ia lewati. Dari pertama kali masuk, di didik dan di siplinkan, latihan fisik mental dan sebagainya, kemudian harus naik dari pangkat demi pangkat sampai ia menjadi jendral. Demikian juga Abraham, ia harus melewati berbagai macam proses untuk sampai kepada panggilan Tuhan. Untuk menjalaninya di butuhkan kerendahan hati, keintiman, pengosongan diri atau hati hamba, dan mata yang tertuju kepada Tuhan, sehingga kita bisa berkata,” PAKSAKAN KEHENDAKMU TUHAN” supaya kita bisa sampai kepada panggilan tersebut.

Paulus adalah seorang rasul generasi terakhir dari jaman para rasul adalah seseorang yang dapat kita teladani kehidupannya. Sekalipun banyak sekali tantangan yang harus ia hadapi, tetapi rasul Paulus terus bertahan dalam panggilannya. Ia tidak pernah menjadi lemah, letih ataupun lesu, sekalipun tubuhnya telah penuh dengan luka. Kekuatan manusia rohnya justru semakin meningkat manakala aniaya datang kepadanya. Dan manusia rohnyalah yang membuat ia dapat terus bertahan dan berlari dalam panggilannya. Paulus tidak pernah mundur dari panggilan hanya karena berbagai tawaran yang menggiurkan yang datang padanya, ia berketetapan untuk terus berlari dan bukan hanya berjalan dalam panggilan tertinggi yaitu panggilan sorgawi.

Demikian juga Yesus sendiri, Ia tetap bertahan dalam panggilanNya sekalipun kayu salib di Golgota telah menantiNya. Kematian bukanlah hal yang perlu di takutkan bagi pejuang iman, apalagi harta, wanita, pria, tahta. Kejar panggilan itu apapun resikonya dan berapapun harganya, sampai kemuliaan Tuhan dinyatakan dalam hidup kita.

Bertahan dalam panggilan bukan hanya sekedar diam-diam saja tanpa ada gerakan, namun kita perlu kerjasama dengan Tuhan, supaya Tuhan lebih mudah membentuk kita jadi seperti yang Tuhan mau. Abraham jadi contoh yang baik, dia tidak pernah tinggal diam ketika panggilan Tuhan datang kepadanya. Dia bergerak mengikuti apa yang Tuhan mau, melakukan segala perintah Tuhan tanpa menunda-nundanya. Jadi jika saat ini panggilan itu datang, segeralah mengerjakannya, jangan menunda-nundanya sebelum segala sesuatunya terlambat, karena waktu Tuhan terus berjalan dan tidak dapat diulang kembali.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *