Bolehkah Orang Kristen Mendengar Musik Sekuler?

Kita hidup di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Oleh karenanya, kita tidak perlu heran ketika menemukan musik-musik, buku-buku, maupun tontonan yang tidak sesuai dengan standar Alkitab. Lalu, apakah itu berarti kita hanya boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu rohani saja? Apakah semua musik yang kita labeli sebagai musik sekuler akan membawa kita ke dalam dosa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada 3 ayat Alkitab yang perlu kita cermati ketika mempertimbangkan sebuah lagu, buku, film, atau hal-hal lainnya.

  1. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ada sebuah cara yang baru-baru ini aku terapkan kepada diriku sendiri. Sebelum mendengarkan suatu lagu, aku akan membaca keseluruhan liriknya tanpa diikuti musik terlebih dahulu, lalu aku akan bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku setuju dengan pesan yang diangkat dalam lagu itu? Apakah tidak masalah jika aku mengucapkan lirik lagu itu ke dalam percakapan sehari-hari?

Sebelumnya, aku bukan orang yang terlalu peduli pada lirik lagu. Selama aku menyukai melodinya, terlebih jika lagu tersebut berada di urutan tangga lagu teratas dan didengarkan oleh banyak orang, aku tidak mau ketinggalan untuk menyanyikannya. Aku juga suka menggunggah video nyanyianku ke media sosial.

Baru ketika aku mengikuti sebuah kamp penulisan lagu setahun yang lalu, aku belajar bahwa setiap penulis lagu memiliki cerita di balik karya-karyanya dan bertujuan untuk membagikan pesan-pesan tertentu. Musik mempengaruhi hati, jiwa, dan pikiran kita lebih dari apa yang kita sadari. Tidak hanya mempengaruhi mood, musik juga bisa mempengaruhi cara pandang kita mengenai sesuatu. Sebagai pendengar, kita memerlukan kepekaan rohani untuk meneliti apakah pesan dan cerita tersebut berpadanan dengan Injil atau tidak.

Dulu, ketika aku pernah mengalami patah hati, ada beberapa lagu sekuler yang kuputar terus menerus karena liriknya persis dengan kisahku. Bukannya menguatkan, lagu tersebut hanya membuatku semakin larut dalam pusaran kesedihan. Belakangan aku baru tahu bahwa Amsal 25:20 sudah pernah mencatat hal ini: “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan lagu yang aku nyanyikan itu. Hanya, di tengah perasaan sedih yang kualami, aku terlalu meresapi liriknya yang puitis dan nadanya yangmelow. Bukannya menjadi semangat, aku malah semakin larut dalam kesedihan.

Seringkali, dengan cepat kita segera larut oleh musik yang apik dan kalimat-kalimat puitis hingga kita mengabaikan apa yang jadi pesan utama dari lagu tersebut. Kita mesti jeli menelisik konsep-konsep apa yang terkandung dalam sebuah musik. Di sisi lain, dengan menggunakan prinsip ini, kita juga bisa menemukan lagu-lagu sekuler yang mengandung pesan dan cerita yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Lagu-lagu semacam ini biasanya memberikan inspirasi dan nuansa positif untuk hati kita.

  1. “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Alkitab memang tidak melarang kita mendengarkan jenis musik tertentu, tapi alangkah baiknya apabila kita mampu bersikap bijak untuk memilih lagu-lagu mana yang akan kita dengarkan. Kekristenan bukanlah sekadar rangkaian peraturan mengenai mana yang boleh dan mana yang tidak. Lebih dari itu, Kekristenan adalah tentang relasi Allah dengan manusia. Setiap pilihan dalam keseharian kita, termasuk dalam memilih lagu, mencerminkan kedekatan kita dengan Allah.

Analoginya seperti berikut. Alkisah, hiduplah dua ekor serigala. Serigala pertama melambangkan kegelapan dan dosa. Serigala kedua melambangkan iman dan kasih. Suatu hari, kedua serigala itu berkelahi. Menurutmu, serigala manakah yang akan menang?

Jawabannya adalah serigala yang paling banyak diberi makan.

Pilihannya tetap kembali kepada kita, bagian mana dari hidup kita yang hendak kita bangun.

Ketika aku mengalami patah hati, kuakui bahwa kesedihanku bertambah bukan akibat kesalahan pihak penulis lagu, penyanyi, atau industri musik. Aku sendirilah yang mestinya lebih mencari kebenaran mengenai kasih Allah lewat pendalaman firman Tuhan.

Setiap hari waktuku untuk mendengarkan musik tidaklah terlalu banyak. Oleh karena itu, aku menyadari bahwa aku lebih membutuhkan musik yang dapat terus mengingatkanku akan Allah di tengah padatnya rutinitas dan aktivitas.

Saat ini, dengan berkembangnya teknologi, kita bisa dengan mudah menikmati lagu-lagu yang kita inginkan tanpa harus bersusah payah membeli CD atau kasetnya di toko. Ada lagu-lagu rohani dan juga lagu sekuler yang bisa kuputar di ponselku untuk sesekali kudengarkan. Lagu rohani favoritku saat ini adalah lagu-lagu dari tim pelayan musik asal Indonesia, Symphony Worship. “Kunyanyi Haleluya” adalah salah satu lagu mereka yang menguatkanku di saat banyak kekhawatiran melanda jiwaku. Sedangkan, lagu sekuler yang sedang kunikmati adalah lagu-lagu Monita Tahalea di album Dandelion. Lagunya yang berjudul “Tak Sendiri” selalu bisa mengangkat semangat karena mengingatkanku akan sahabat-sahabat yang kukasihi dan mengasihiku.

  1. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Orang Kristen memang perlu meng-update dirinya dengan informasi terbaru sehingga bisa menjadi relevan dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita diutus, yakni menjadi garam dan terang dunia, termasuk di sudut-sudut tergelap dalam industri musik sekalipun. Hanya saja, kita tidak harus selalu setuju pada apa yang kita tahu.

Jangan takut dianggap tidak keren hanya karena menolak satu-dua hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bukan keserupaan dengan dunia yang harus kita kejar, tetapi keserupaan dengan Kristus. Pedoman kehidupan kita di dunia ini bukanlah dari musik rohani atau musik sekuler, tetapi dari firman Tuhan sendiri. Musik hanyalah sebuah sarana untuk kita bisa mencurahkan emosi ataupun membangkitkan semangat. Kepekaan kita terhadap firman Tuhan tentu dapat membantu kita untuk bijak dalam memilih musik mana yang hendak kita dengarkan.

Sampai saat ini, aku masih menggeluti minatku di bidang musik, termasuk menyanyikan lagu-lagu sekuler di acara tertentu, menggungah video-video cover di media sosial dan sesekali menonton konser untuk memperoleh referensi bermusik. Khusus teman-teman pegiat musik, aku tahu sulitnya mempertahankan idealisme Kristiani kita di lingkungan pergaulan, tapi itulah kesempatan bagi kita untuk membagikan nilai-nilai Kristus yang memang berbeda dari yang dunia tawarkan.

Bukan kesukaan dan penerimaan dari manusia yang kita cari, tetapi kesukaan dan pujian dari Allah ketika Dia melihat kita memaksimalkan karunia yang Dia berikan kepada kita. Dengan mengingat bahwa talenta kita berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, kita dapat tetap berkarya dengan cara yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik itu musik rohani ataupun sekuler, kita perlu peka untuk meneliti apakah lirik dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang lagu itu selaras dengan firman Tuhan atau tidak. Apakah dengan mendengarkan lagu itu kita diingatkan lagi tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Setiap pilihan yang kita ambil dalam keseharian kita, termasuk dalam pilihan lagu, mencerminkan relasi kita dengan Allah.

Soli Deo Gloria!

 

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Sumber: http://www.warungsatekamu.org/2017/06/bolehkah-orang-kristen-mendengar-musik-sekuler/

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *