Kasih Sebagai Dasar Dari Kekristenan

Sering kali saya mendengar khotbah dan membaca tentang kasih di berbagai media menyangkut kekristenan. Hari ini saya ingin mencoba untuk menggali bagaimana kasih itu terlukis dan apa yang Tuhan ingin kita lakukan dengan ‘kasih’.

Allah adalah Kasih.

Dalam 1Yohanes 4:7-8, Yohanes menyampaikan bahwa kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi Allah berasal dari Allah, dan siapa yang tidak mengenal kasih, tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Mungkin pernah terfikir oleh kita, kenapa Allah selalu di kaitkan dengan ‘kasih’. Pada 1Yohanes 4:19, jelas tertulis bahwa kita mulai mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Ini membuktikan bahwa sesungguhnya Allah itu adalah sumber dari segala kasih. Ia adalah Sang Pemberi kasih yang pertama dan utama. Satu tujuan utama Yesus datang ke dunia adalah menghapus dosa kita di dunia, dan hal ini Ia lakukan atas dasar kasihNya yang begitu besar.

Allah mengasihi kita.

Apakah anda tahu bahwa Allah sangat mengasihi kita? Selain pengorbananNya di kayu salib, kasihNya juga nyata terlihat bagi setiap individu seperti kita. Pernahkah anda berfikir bagaimana Tuhan mengenal anda secara pribadi, lebih dari siapapun orang terdekat yang anda miliki? Ia mengerti apa yang kita rasakan dan apa yang kita pikirkan. Ia tidak pernah salah paham terhadap maksud hati dan tujuan kita. Bayangkan, berapa banyak orang yang ada di dunia ini, dan Allah mengenal setiap individu dengan begitu detail.

Terlebih lagi, kasih Allah tidak pernah memilih. Ia mencintai setiap kita apapun keadaan kita. Sering kali kita merasa kita tidak layak karena telah berbuat begitu banyak dosa di kehidupan kita dan merasa Tuhan tidak akan memaafkan kita dan mengasihi kita seperti Ia mengasihi orang yang baik dan orang yang patut dikasihi. Namun, Tuhan mengasihi kita apapun dan bagaimanapun kita.

Akan tetapi Allah menunjukan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Roma 5:8).

Jelas terlihat di ayat diatas bahwa walapun kita berdosa, Allah tetap mengasihi kita. Lihatlah bagaimana Allah sangat di gambarkan oleh kasih. Maka dari itu, dalam kekristenan itu sendiri, kasih merupakan hal yang sangat utama. Karena Allah adalah kasih, Ia ingin kita sebagai anak-anaknya turut mengasihi. Yesus menjawab pada orang ahli Taurat yang menanyakan hukum mana dari hukum Taurat yang merupakan terutama:

“Kasihilah Tuhan, Allah-mu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37-39).

Pertama, kita harus mengasihi Allah dengan segenap pikiran, hati dan akal budi kita dengan cara mematuhi semua perintahNya, memujiNya, menyembahNya, dan terus berdoa dan berserah kepadaNya.

Kedua, kita harus mengasihi sesama manusia, baik itu teman, keluarga, orang yang tak kita kenal, bahkan hingga musuh kita. Yesus sendiri yang mengajarkan kita pada Lukas 10:29-37, bahwa kita harus mengasihi sesama termasuk musuh kita. Sebagai pengikut Kristus, kita mungkin tidak selalu berjalan mulus dan diterima di masyarakat, banyak situasi dimana pengikut Kristus harus menderita, tertolak, dan bahkan teraniaya. Untuk hal yang satu ini, Yesus juga telah berpesan, bahwa “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2Timotius 3:12)” dan Yesus berpesan “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:44&45).

Mungkin banyak dari kita tidak sanggup mengasihi musuh kita. Secara akal sehat, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi orang yang kita benci? Namun, Yesus memberi contoh, dengan kasih, kita akan belajar untuk memaafkan dan mengasihi.

Sebagai murid Yesus, kita pasti ingin mengikuti teladan Sang Guru, ingatkah anda apa yang Tuhan Yesus katakan saat Ia disalibkan? Yesus berkata:’Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34)’. Tidakkah anda tersentuh? Yesus yang telah di salibkan dan dianiaya dengan sangat kejam masih memohon pengampunan bagi mereka yang menganiayaNya. Ok, mungkin anda pikir bagaimana anda bisa semulia Bapa kita yang penuh pengampunan.Bagaimana kalau anda baca ayat yang satu ini:

”Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang disorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Matius 6:14-15)”

Renungkanlah ayat ini. Mungkin ada dari beberapa kita yang benar-benar telah dikhianati atau dilukai begitu dalam hingga kita sulit untuk memaafkan, apalagi dilukai oleh orang terdekat kita. Apakah anda sudah memaafkan mereka? Karena Bapa kita meminta anda untuk melakukan itu.

Memaafkan seseorang bukan berarti anda sekarang langsung terus saja percaya pada mereka dan langsung saja berteman sedekat dulu. Mungkin saja mereka memang tidak bisa dipercaya. Namun, satu hal penting yang harus anda lakukan, putuskan untuk tidak menyimpan kesalahan yang telah mereka buat di hati anda. Mungkin banyak dari kita tidak sanggup untuk melakukan ini, tapi berdoalah pada Bapa, mintalah damai dan pengampunan daripadaNya, dan anda akan merasakannya.

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *