Kristus Yang Hidup Membuka Mata, Pikiran Dan Mulut Kita Lukas 24:13-53

Shalom,

Kita telah merayakan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dan pada hari ke-40 setelah kebangkitan-Nya kita akan memperingati hari kenaikan-Nya. Mari kita belajar mengenal Kristus yang hidup (setelah kebangkitan-Nya) sebelum kembali ke Surga dalam Injil Lukas ini. Kita belajar akan kasih dan kesetiaan-Nya kepada murid-murid-Nya. Kita tahu bahwa 3½ tahun Yesus mengajar murid-murid-Nya; Ia juga berulang kali menyampaikan kepada mereka bahwa Dia akan menderita, dibunuh dan pada hari ketiga akan bangkit. Namun pada saat Yesus mengalami penderitaan yang begitu hebat, para murid melarikan diri, Petrus menyangkal Yesus. Dan ketika Yesus mati, mereka semua ketakutan, ragu-ragu, putus asa, dll. Menurut ukuran manusia, murid-murid telah gagal total tetapi Yesus tidak pernah gagal dalam melaksanakan misi penyelamatan manusia berdosa. Ia datang kepada murid-murid-Nya tidak dengan hukuman, kemarahan atau diskualifikasi tetapi dengan kasih mengoreksi hati murid-murid-Nya supaya mereka makin mengenal Dia yang telah bangkit dan hidup.

  1. Hati yang putus asa: Dia membuka mata untuk mengenal-Nya (Luk. 24:13-35)

“Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka…”

Lukas, dalam tulisannya di Injil Lukas, menulis kepada Teofilus tentang Yesus yang bangkit dan menampakkan diri kepada (1) dua orang murid yang sedang berjalan ke Emaus (Luk. 24:13-35) dan (2) sebelas murid yang sedang berkumpul di ruang tertutup (ay. 36-43).

Pagi-pagi benar pada hari Minggu, beberapa perempuan (Maria Magdalena, Yohana, Maria ibu Yakobus dll.) datang ke kubur Yesus tetapi batu telah terguling dan mereka tidak menemukan mayat Yesus. Kemudian dua malaikat memberitahu mereka kalau Yesus sudah bangkit. Segera mereka pulang memberitakan kepada sebelas murid dan yang lain tetapi mereka tidak percaya dan menganggapnya omong kosong belaka (ay. 11).

Apa yang dilakukan Yesus setelah bangkit dari kematian? Yesus mendekati dua murid yang sedang pergi ke Emaus (± 7 mil dari Yerusalem) dan mendengarkan percakapan mereka tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ada sesuatu yang menghalangi mata mereka sehingga mereka tidak mengenal Yesus. Ketika Yesus bertanya apa yang sedang mereka perbincangkan, mereka yang dilanda keputusasaan menceritakan bagaimana mereka mengharapkan Yesus dapat membebaskan bangsa Israel tetapi telah dihukum mati dengan disalib (ay. 19-21). Mereka juga menjelaskan beberapa perempuan datang ke kubur Yesus hari Minggu pagi-pagi tetapi tidak menemukan  mayat-Nya lalu malaikat memberitahu mereka bahwa Ia sudah bangkit. Perempuan-perempuan itu bergegas memberitahu para murid dan beberapa dari mereka pergi ke kubur tetapi tidak melihat Dia (ay. 22-23).

Mendengar penjelasan dua murid tersebut, Yesus menegur mereka ‘bodoh’ dan ‘lamban hati’ bukan untuk menjatuhkan tetapi karena kasih. Kemudian Yesus menjelaskan tentang Dia yang tertulis dalam kitab Suci mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi (Kejadian–Maleakhi) selama perjalanan. Anehnya, mereka tidak tersinggung meskipun dikatakan bodoh oleh ‘Orang’ yang tidak mereka kenal. Yesus yang bertindak sebagai Guru yang baik tidak membiarkan mereka dalam kebingungan dan keputusasaan tetapi memberikan mereka pengharapan dan sukacita.

Implikasi: ketika melihat saudara atau teman kita gelisah dan putus asa, bersikaplah seperti Yesus yang mendekati dengan penuh kasih dan memberitakan Firman Tuhan untuk memulihkan keadaan mereka. Juga pembicaraan Firman Tuhan tidak hanya dila-kukan di gereja tetapi dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Selain itu Yesus tidak melihat jumlah murid yang perlu diinjili, meskipun dua orang, Ia melayani sepenuh hati membuat mereka mengerti akan Firman Tuhan.

Aplikasi: hendaknya hamba Tuhan dan penatua tidak terpaku pada jumlah jemaat untuk diinjili. Perlu diketahui meskipun jemaat rajin datang ke gereja mendengarkan Firman Tuhan, belum tentu mereka langsung mengerti Firman untuk dipraktikkan sebab mereka belum ketemu Yesus dan mengenal-Nya secara utuh. Bagaimanapun juga, tetap ingatkan Firman Tuhan yang menjadi solusi setiap persoalan.

Ketika tiba di tempat tujuan, Yesus berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan tetapi mereka mendesak-Nya untuk menginap. Saat makan bersama, Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan memberikannya kepada mereka, seketika itu juga mata mereka terbuka dan mengenal Dia tetapi Ia telah lenyap dari tengah-tengah mereka (ay. 31).

Peristiwa ‘mata terbuka’ juga dialami oleh abdi Elisa yang ketakutan dan melapor kepada Elisa tentang banyaknya pasukan raja Aram yang hendak menangkap Elisa karena telah membocorkan rencana penyerangan raja Aram terhadap Israel sehingga strategi mereka selalu gagal (2 Raja 6:8-13). Mendengar laporan ini Elisa tidak gentar bahkan menenangkan abdinya untuk tidak takut sebab lebih banyak yang menyertai mereka ketimbang pasukan Aram. Elisa berdoa kepada TUHAN memohon agar mata abdinya ‘dibuka’ supaya dapat melihat dan doa Elisa didengar oleh-Nya (ay. 16-18).

Bagaimana reaksi dua murid yang terbuka matanya? Hati mereka berkobar-kobar dan penuh sukacita kembali ke Yerusalem untuk menceritakan kepada murid-murid lain pengalaman pertemuan mereka dengan Yesus. Sebelumnya mereka mengenal Yesus hanya sebatas nabi dan tidak mengerti Yesus harus menderita namun sekarang mereka percaya Yesus mati dan bangkit. Sama seperti Petrus yang tidak menginginkan Yesus menderita disalib sehingga ditegur keras oleh Yesus (Mat. 16:23).

Introspeksi: bagaimana hati kita saat mendengarkan Firman Tuhan, apakah berkobar-kobar atau biasa saja? Sejauh mana pengenalan kita kepada-Nya? Apakah sebatas Nabi, Pemberi berkat, Penyembuh dll. tetapi kita tidak mau menderita bersama-Nya? Biarlah kebangkitan Kristus membuka mata kita untuk tidak ‘bodoh’ juga tidak ‘lamban’ hati untuk mengerti rencana-Nya.

  1. Hati yang ragu: Dia membuka pikiran untuk mengenal Firman-Nya (ay. 36 – 47)

“Lalu Ia membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti Kitab Suci.” (ay. 45)

Bagaimana kondisi para murid setelah kematian Yesus? Mereka berkumpul di suatu tempat dengan pintu-pintu terkunci karena takut kepada orang-orang Yahudi (Yoh. 20:19). Seharusnya Petrus yang senior dapat menenangkan teman-teman seperjuangannya yang lebih muda tetapi ternyata dia sendiri dicengkam ketakutan. Ketika dua murid ini memberitahukan tentang Yesus yang sudah bangkit, mereka masih ragu juga. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di   tengah-tengah mereka dan memberikan damai sejahtera bagi mereka (ay. 36). Yesus tahu bahwa murid-murid membutuhkan damai sejahtera namun mereka begitu terkejut dan menyangka melihat hantu. Untuk melenyapkan keragu-raguan mereka, Yesus membuktikan Ia memiliki daging dan tulang dan minta makanan untuk dimakan di depan mereka (ay. 38-43).

Mengapa mereka begitu ketakutan? Karena tidak mengerti Kitab Suci – Firman  Tuhan; itu sebabnya Yesus membuka selubung yang menutup pikiran mereka (ay. 45). Setelah pikiran mereka terbuka, mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Dia (ay. 53).

Peristiwa serupa terjadi ketika Lidia, penjual kain ungu dari kota Tiatira, mengerti Firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Paulus setelah Tuhan membuka hati dan pikirannya (Kis. 16:14). Di kesempatan lain, Rasul Paulus menegur keras jemaat Korintus yang hidup munafik – kelihatan rohani tetapi melakukan banyak kejahatan – sebab pikiran dan hati mereka ada selubung yang menyelubunginya sehingga mereka tidak mengerti kitab Musa. Pikiran mereka dibutakan oleh ilah zaman ini (2 Kor. 4:3-4) sehingga mereka menggantikan Tuhan dengan benda (harta kekayaan) atau orang yang diidolakan. Hanya Kristus yang dapat menyingkapkan dan Roh Kudus yang memerdekakan mereka (2 Kor. 3:12-18).

Introspeksi: sudahkah kita membawa damai/ketenangan kepada sesama atau malah ikut-ikutan terpancing situasi ketika massa lagi bergejolak? Ingat, bila pikiran dan hati tertutup sehingga tidak mengerti Firman Tuhan, kita akan diliputi ketakutan dan tidak ada damai sama sekali.

  1. Hati yang diubahkan: Dia membuka mulut menyaksikan Pribadi-Nya (ay. 38 – 53)

Bila awalnya para murid hidup dalam ketakutan, setelah mempunyai pengalaman bertemu Yesus yang bangkit dan mengerti Firman Tuhan, mulailah mereka berani memberitakan Injil dan menjadi saksi Kristus setelah mereka dipenuhi Roh Kudus (Kis. 1:8). Dengan berapi-api mereka memberitakan kematian dan kebangkitan Kristus bahkan tak jarang mereka dijebloskan ke penjara untuk membungkam mulut mereka tetapi penderitaan tidak dapat menahan mereka untuk tetap memberitakan Yesus Kristus yang tersalib. Dan inilah inti berita yang selalu mereka saksikan bahwa Yesus telah mati, bangkit dan hidup bagi keselamatan setiap orang yang percaya.

Harus diakui masih ada selubung yang menutupi pikiran, hati dan mulut kita sehingga kita tidak mengenal Yesus Kristus dengan tepat meskipun sudah tahunan mendengarkan Firman Tuhan dan mulut kita malas bersaksi akan kebesaran-nya. Mohonlah kepada Tuhan untuk menyingkapkan mata kita agar dapat memandang keajaiban Taurat-Nya (Mzm. 119:18), membuka pikiran kita untuk dapat mengerti Firman-Nya dan mulut kita bersaksi akan keubahan hidup yang dikerjakan oleh-Nya. Ingat, hanya Yesus Kristus yang dapat memberikan pengharapan dan sukacita sebagai ganti dari keputusasaan dan dukacita. Amin.

 

Sumber:http://www.gkga-sby.org/home/index.php/ibadah-umum/686-kristus-yang-hidup

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *