Belajar Mengasihi

Belajar Mengasihi

Kejarlah kasih itu. —1 Korintus 14:1

Cinta tidak saja membuat “dunia ini berputar”, seperti kata sebuah lagu lama. Cinta juga bisa menjadikan kita sangat rentan. Mungkin adakalanya kita berkata pada diri sendiri: “Apa gunanya mencintai seseorang yang tak menghargainya?” atau “Untuk apa mengasihi jika itu dapat membuatku terluka?” Namun Rasul Paulus memberikan alasan yang jelas dan sederhana untuk mengejar kasih: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. Kejarlah kasih itu” (1Kor. 13:13–14:1).

  1. K. Barrett, seorang penafsir Alkitab, menulis, “Kasih adalah perbuatan yang keluar dari sifat dasar Allah sendiri, dan ketika manusia mengasihi Allah atau sesamanya, mereka sedang melakukan (meskipun tidak sempurna) apa yang dilakukan oleh Allah.” Allah pun senang ketika kita berbuat seperti yang Dia lakukan.

Mengejar kasih dapat dimulai dengan merenungkan sejauh mana Anda hidup menurut ciri-ciri kasih yang disebutkan dalam 1 Korintus 13:4-7. Sebagai contoh, bagaimana saya dapat menunjukkan kesabaran kepada anak saya dengan kesabaran yang ditunjukkan Allah kepada saya? Bagaimana saya bisa menunjukkan kebaikan dan rasa hormat kepada orangtua saya? Apa artinya memperhatikan kepentingan orang lain di tempat kerja saya? Ketika seorang teman memperoleh berkat, apakah saya ikut bersukacita atau justru merasa iri?

Ketika kita mengejar kasih, kita akan mendapati diri kita terus-menerus bersandar kepada Allah, Sumber kasih, dan kepada Yesus, Teladan kasih yang teragung. Hanya dengan demikianlah kita akan semakin memahami makna kasih yang sejati sekaligus memperoleh kekuatan untuk mengasihi sesama sebagaimana Allah telah mengasihi kita.

Sumber: https://santapanrohani.org/2016/06/21/belajar-mengasihi-2/

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *