Diberkati untuk Memberkati

Diberkati untuk Memberkati

Disadur dari gracedepth.com

Pada suatu ketika, ada seorang ayah yang memiliki tiga orang anak laki-laki (Robby, Ricky, dan Rendy). Mereka masih sangat kecil, sehingga mereka tidak dapat memasak untuk diri mereka sendiri. Namun, mereka cukup besar untuk memesan makanan melalui telepon. Jadi biasanya, ketika sang ayah pergi pada siang hari, dia memberikan uang kepada mereka agar mereka dapat memesan makanan mereka sendiri.

Pada suatu hari, sang ayah hendak pergi di pagi hari, ketika hanya Robby yang baru bangun. Oleh karena itu, dia memberikan uang untuk jatah tiga orang kepada Robby. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan rumah.

Robby tau bahwa uang itu seharusnya dibagi tiga, sepertiga untuknya, sepertiga untuk Ricky, dan sepertiga untuk Rendy. Namun, Robby sadar bahwa sepertiga dari uang itu hanya cukup untuk membeli paket nasi dan ayam goreng, sedangkan seluruh dari uang itu cukup untuk membeli spaghetti kesukaannya. Keinginan egois muncul di dalam hati Robby; Robby pun akhirnya memilih untuk menggunakan seluruh uang yang dia miliki untuk membeli spaghetti dan tidak menyisakan apa-apa untuk Ricky dan Rendy. Robby pun menghabiskan spaghetti pesanannya dengan sangat lahap.

Singkat cerita, setelah Ricky dan Rendy bangun, mereka menanyakan kepada Robby akan kemana ayah mereka pergi. Robby pun menceritakan tentang ayahnya yang sudah meninggalkan rumah dari pagi hari, tetapi dia tidak menceritakan tentang ayahnya yang telah menitipkan uang kepadanya. Ricky dan Rendy menjadi sangat kebingungan—jarang sekali ayahnya meninggalkan rumah tanpa menitipkan uang untuk mereka makan.

Akhirnya, Ricky dan Rendy menahan rasa lapar mereka dengan makan biskuit hingga ayahnya pulang di malam hari. Ketika ayahnya pulang dan mengetahui bahwa Ricky dan Rendy seharian hanya makan biskuit sisa yang ada di lemari, dia menjadi sangat marah kepada Robby–“Robby! Mengapa kamu tidak berbagi kepada saudara-saudaramu? Ayah sudah memberikan uang yang cukup besar untuk kalian bertiga makan!”

Robby menundukkan kepalanya dan membalas, “Aku tidak tau ayah ingin aku berbagi. Aku pikir semua uang itu ayah berikan hanya untuk saya.” Ayahnya pun menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu sebenarnya sudah tau uang itu bukanlah hanya untukmu, melainkan juga untuk saudara-saudaramu! Tadinya ayah berencana untuk mengajak kalian semua makan ke restoran pizza malam ini, tetapi sepertinya hanya Ricky dan Rendy yang akan ikut, sedangkan kamu hanya akan makan biskuit di rumah.”

Teman-teman, tidak terpuji sekali bukan yang dilakukan oleh Robby? Dia diberikan begitu banyak oleh ayahnya agar dia juga dapat berbagi kepada saudara-saudaranya. Namun oleh karena keegoisannya, dia menolak untuk berbagi akan apa yang sudah dititipkan kepadanya, dan dia malah menggunakan seluruhnya untuk kepuasannya sendiri.

Apa yang dilakukan Robby ini adalah sesuatu yang beberapa dari kita masih lakukan di dalam hidup kita hingga hari ini. Kita sudah diberikan begitu banyak dari Tuhan. Namun, kita menolak untuk berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Padahal, Tuhan memberikan begitu banyak kepada kita bukan sekedar untuk kepentingan kita, melainkan juga untuk kepentingan orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. 1 Yohanes 3:17 mengatakan, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”

Sesungguhnya, yang Tuhan inginkan bukanlah untuk kita menjadi baskom berkat, melainkan menjadi selang berkat. Dia memberkati kita agar kita juga dapat memberkati orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan kepada Abraham, begitupula yang ingin Dia katakan kepada setiap dari kita: “I will bless you, and you will be a blessing” (Genesis 12:2).

Marilah kita tinggalkan pemikiran keliru bahwa Tuhan memberkati kita hanya untuk diri kita saja. Kekristenan bukanlah kehidupan yang mementingkan diri sendiri, melainkan kehidupan yang mementingkan orang lain. Gunakanlah berkat-berkat yang Tuhan telah berikan kepada kita untuk memberkati orang lain, sehingga orang lain juga dapat melihat bahwa Tuhan sungguh baik. Lagi pula, semua yang kita miliki sebenarnya bukanlah berasal dari diri kita sendiri, melainkan sebuah titipan dari Bapa kita yang begitu baik.

“Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Matius 25:42-46)

Orang Kristen yang menampung berkat Tuhan hanya untuk dirinya sendiri akan menjadi batu sandungan bagi nama Tuhan. Tetapi orang Kristen yang menyalurkan berkat Tuhan kepada orang-orang di sekitarnya akan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *