APRESIASI LAGU : Have Thine Own Way, Lord !

JADILAH KEHENDAK TUHAN

Have Thine Own Way, Lord !

Adelaide A. Pollard (1902)

Apakah kamu pernah punya beban besar untuk melakukan sesuatu baik itu dalam pendidikan, pekerjaan, bahkan pelayanananmu ? Kemudian kamu sudah berdoa, namun tidak dikabulkan padahal kerinduan kita akan beban ini sungguhlah mulia. Kejadian ini mirip dengan kisah Adelaide Addison Pollard, yang merupakan pengarang lagu hyme “Have thine own way Lord” (Kehendak Tuhan Jadikanlah).

Adelaide adalah seorang wanita kristen yang rajin dan setia dalam melayani Tuhan. Namun, Adalaide orang yang keras kepala yang bersikeras mengikuti jalannya sendiri. Tetapi dalam hal yang sungguh berarti, Adelaide selalu berusaha mengikuti jalan Tuhan. Syair lagu ini di lengkapi melodinya oleh George Coles Stebbins, yang merupakan salah satu musisi injil terkemuka pada abad itu.

Latar belakang Adelaide menulis lagu ini adalah ketika Adelaide rindu untuk melayani di Afrika, ia sangat ingin menjadi misionaris disana. Tetapi dana yang ia butuhkan untuk melayani disana tidak mencukupi. Sempat ia merasa sedih sekali dan diliputi rasa kecewa. Hingga ditengah rasa hati yang dikecewakan Adelaide menghadiri suatu persekutuan doa. Hadir juga pada saat itu seorang wanita kristen yang sudah lanjut usianya. Isi doa wanita tua itulah yang boleh menginspirasi Adalaide untuk menulis lagu ini. Adalaide terdorong untuk memperbaharui penyerahan dirinya kepada Tuhan. Ia boleh sadar bahwa jika memang bukan kehendak Tuhan supaya ia pergi ke Afrika, maka hal itu bukanlah masalah bagi dia.

Sepulangnya dari pertemuan doa itu, Adelaide membuka Alkitab dan membaca Yeremia 18:3-4“Pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya”. Ayat tersebut memberikan kepada Adelaide suatu pandangan yang baru : “Rupa-rupanya hingga kini Tuhan telah membentuk hidupku, seperti tanah liat di dalam tanganNya. Tetapi mungkin kemauan keras hendak pergi ke Afrika itu telah membuat hidupku rusak, sehingga Tuhan harus membentuknya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya”.

Adelaide dalam syair lagu ini juga boleh mengintepretasikan hubungannya dengan Allah, bahwa relasi dengan Allah itu seperti tukang periuk dan periuknya, kita adalah periuk yang siap di bentuk dan bongkar sesuka hati oleh tukang periuk baik itu karena bentuknya tidak memuaskan atau karena kit tidak layak untuk menjadi bejana. Oleh karena itu, sudah sejauh mana kita dapat membuka hati untuk siap dibentuk oleh Tuhan dan boleh menyatakan biarlah kehendak Tuhanlah yang jadi dalam kehidupan kita ?

 

God Bless You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *